Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Ṭaulan: kemampuan finansial atau harta yang cukup.
- Al-Muḥṣanāt: perempuan-perempuan merdeka yang terpelihara kehormatannya (bukan budak).
- Fatayātikum: budak-budak perempuan yang kalian miliki.
- Ujūrahunna: mahar atau maskawin mereka.
- Musāfiḥāt: perempuan yang berzina secara terang-terangan.
- Mutakhidzāt akhdān: perempuan yang mengambil kekasih untuk berzina secara sembunyi-sembunyi.
- Al-‘Anat: perbuatan zina atau kesulitan yang berat akibat dorongan syahwat yang tidak terkendali.
Tafsir Ayat:
Wahai kaum muslimin, Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan rahmat-Nya yang agung memberikan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya dalam urusan pernikahan. Barangsiapa di antara kalian yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk menikahi perempuan-perempuan merdeka yang beriman—karena mahar yang tinggi atau biaya hidup yang berat—maka Allah membolehkan baginya untuk menikahi budak-budak perempuan mukmin yang dimiliki oleh orang lain, dengan syarat mereka adalah perempuan yang beriman dan menjaga kehormatannya.
Allah mengingatkan kita bahwa Dia-lah yang Maha Mengetahui hakikat iman yang ada di dalam hati setiap hamba-Nya. Kalian tidak perlu meragukan keimanan seseorang hanya karena status sosialnya. Sebab, pada hakikatnya kalian semua berasal dari satu keturunan yang sama—yaitu anak cucu Adam—dan sama-sama berada di atas agama Islam. Tidak ada kelebihan seorang merdeka atas seorang budak kecuali dengan ketakwaan. Maka janganlah kalian merasa enggan atau gengsi untuk menikahi budak-budak perempuan yang beriman.
Apabila kalian hendak menikahi mereka, maka lakukanlah dengan cara yang benar dan terhormat: mintalah izin kepada tuan atau majikan yang memiliki mereka, dan berikanlah mahar mereka dengan penuh kerelaan dan kebaikan, tanpa mengurangi hak mereka sedikit pun atau menunda-nundanya. Nikahilah mereka dalam keadaan mereka menjaga kesucian diri, bukan sebagai perempuan yang berzina secara terang-terangan, dan bukan pula sebagai perempuan yang diam-diam menjalin hubungan gelap dengan kekasih-kekasih rahasia.
Kemudian Allah menjelaskan hukum bagi mereka: jika mereka telah menikah dengan sah, lalu mereka melakukan perbuatan keji (zina), maka hukuman bagi mereka adalah setengah dari hukuman perempuan-perempuan merdeka yang telah menikah—yaitu 50 kali cambukan, dan tidak ada hukuman rajam bagi mereka. Ini adalah keringanan dari Allah sesuai dengan status mereka sebagai budak.
Perlu dipahami dengan jelas bahwa kebolehan menikahi budak perempuan ini bukanlah hukum umum yang berlaku tanpa syarat. Ia hanyalah rukhsah (keringanan) khusus bagi orang yang benar-benar khawatir dirinya akan terjerumus ke dalam perbuatan zina karena dorongan syahwat yang kuat, sementara ia tidak mampu menikahi perempuan merdeka. Adapun bagi orang yang mampu menahan diri dan bersabar, maka bersabar dari menikahi budak adalah lebih baik baginya, karena hal itu akan menjaga keturunan dari status perbudakan dan lebih menjaga kehormatan keluarga.
Di akhir ayat, Allah menutup dengan dua sifat-Nya yang indah: Ghafūr (Maha Pengampun) dan Raḥīm (Maha Penyayang). Ini adalah kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang dalam keadaan terdesak dan lemah. Allah tidak ingin mempersulit hamba-Nya, tetapi Dia membuka pintu-pintu kemudahan dan memberikan ampunan bagi mereka yang berusaha menjaga kesucian diri dengan cara yang halal.
Renungan dan Pesan Dakwah:
Sungguh indah ajaran Islam ini! Agama yang sempurna ini tidak pernah membiarkan umatnya terombang-ambing dalam kesulitan tanpa solusi. Ketika seorang pemuda tidak mampu menikahi perempuan merdeka karena keterbatasan harta, Islam tidak membiarkannya tenggelam dalam kemaksiatan, tetapi membukakan pintu lain yang halal dan diridhai Allah.
Wahai saudaraku, perhatikanlah bagaimana Islam menjaga kehormatan dan kesucian umatnya. Islam sangat membenci perzinaan, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi, sehingga Allah memberikan jalan keluar yang mulia bagi mereka yang takut terjerumus ke dalamnya. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Marilah kita senantiasa bersyukur atas nikmat Islam yang sempurna ini. Janganlah kita merasa berat untuk mengikuti petunjuk Allah, karena di balik setiap perintah dan larangan-Nya terdapat hikmah dan kebaikan yang agung. Dan ingatlah, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang—Dia menerima taubat hamba-Nya yang kembali kepada-Nya dengan tulus, dan Dia memberikan kemudahan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh menjaga kesucian dirinya.
📜 Ayat 23-27 — An-Nisa
Terjemah — An-Nisa 25
Surat An-Nisa Ayat 25 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya…Surat Ayat 25/176 — An-Nisa النساء (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: An-Nisa Dengarkan, An-Nisa Terjemah, An-Nisa mp3, An-Nisa pdf. Ayat 23–27. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








