Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- Qaḍā: Memutuskan, menetapkan, atau memerintahkan secara pasti.
- Al-Khiyarah: Pilihan atau hak untuk memilih.
- Min Amrihim: Dari urusan mereka sendiri.
- Ḍalālan Mubīnā: Kesesatan yang nyata dan jelas.
Tafsir Ayat:
Ayat yang mulia ini menegaskan sebuah prinsip agung dalam kehidupan seorang mukmin: tidaklah patut dan tidaklah layak bagi seorang lelaki mukmin maupun perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara—baik berupa perintah, larangan, maupun ketetapan hukum—mereka masih memiliki pilihan untuk menolak atau memilih selain dari ketetapan tersebut. Sebab, keimanan yang sejati menuntut kepasrahan total kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ketika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu urusan, maka tidak ada ruang bagi seorang mukmin untuk berkata, "Saya lebih suka yang ini," atau "Saya tidak setuju dengan ketetapan itu." Ini bukan berarti Islam mematikan akal atau menghilangkan kebebasan berpikir, tetapi justru inilah kemuliaan seorang hamba: ia menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas. Allah yang menciptakan manusia pasti lebih tahu apa yang maslahat dan apa yang mudarat bagi mereka.
Ayat ini turun dalam konteks pernikahan Zaid bin Haritsah—sahabat yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ—dengan Zainab binti Jahsy. Ketika Allah dan Rasul-Nya memutuskan perkara tersebut, sebagian orang merasa keberatan, maka Allah menegaskan bahwa tidak ada pilihan bagi seorang mukmin selain tunduk kepada ketetapan-Nya.
Kemudian Allah menutup ayat ini dengan peringatan yang sangat tegas: "Barang siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata." Ini adalah ancaman yang serius, karena kesesatan yang dimaksud bukanlah kesesatan yang samar, melainkan kesesatan yang terang benderang, jauh dari jalan kebenaran, dan tampak jelas bagi siapa pun yang melihatnya.
Renungan dan Pesan Dakwah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat berharga: kebahagiaan sejati itu bukan terletak pada selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi pada kemampuan kita untuk ridha dan menerima apa yang Allah tetapkan. Betapa banyak orang yang ketika keinginannya tidak terpenuhi merasa kecewa, padahal di balik ketetapan Allah tersimpan hikmah yang mungkin belum ia ketahui.
Coba renungkan: jika kita percaya bahwa Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim—Maha Pengasih dan Maha Penyayang—maka mustahil Dia menetapkan sesuatu yang buruk bagi hamba-Nya. Bahkan ketika Allah menguji kita dengan kesulitan, itu adalah bentuk kasih sayang-Nya untuk mengangkat derajat kita dan membersihkan dosa-dosa kita.
Maka, marilah kita jadikan ayat ini sebagai pedoman hidup. Ketika menghadapi persoalan, baik yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, rumah tangga, maupun kehidupan sosial, hendaknya kita selalu bertanya: "Apa kata Allah dan Rasul-Nya tentang ini?" Bukan "Apa kata hatiku?" atau "Apa kata hawa nafsuku?" Karena sesungguhnya, di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya itulah terdapat keamanan, ketenteraman, dan kebahagiaan yang hakiki—di dunia maupun di akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang tunduk dan patuh kepada setiap ketetapan-Nya, dan menjauhkan kita dari sifat membangkang yang menyebabkan kesesatan yang nyata. Aamiin.
📜 Ayat 34-38 — Al-Ahzab
Terjemah — Al-Ahzab 36
Surat Ayat 36/73 — Al-Ahzab الأحزاب (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Ahzab Dengarkan, Al-Ahzab Terjemah, Al-Ahzab mp3, Al-Ahzab pdf. Ayat 34–38. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








