Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- Ażaqnā (أَذَقْنَا): Kami berikan/rasakan.
- Raḥmah (رَحْمَةً): Nikmat, kebaikan, dan kasih sayang.
- Naza'nāhā (نَزَعْنَاهَا): Kami cabut, kami ambil kembali.
- Ya'ūs (يَئُوسٌ): Sangat berputus asa, kehilangan harapan.
- Kafūr (كَفُورٌ): Sangat ingkar, sangat tidak mensyukuri nikmat.
Tafsir Ayat:
Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan tabiat manusia yang lemah dan seringkali lupa diri. Apabila Allah memberikan nikmat kepadanya—baik berupa kesehatan, kekayaan, keamanan, ketenangan, atau nikmat-nikmat lainnya—kemudian nikmat itu dicabut kembali darinya, maka ia pun larut dalam keputusasaan yang amat dalam. Ia merasa bahwa rahmat Allah tidak akan pernah kembali lagi kepadanya. Ia pun tenggelam dalam keluhan dan kegelisahan, seolah-olah tidak ada harapan lagi dari Allah.
Yang lebih menyedihkan lagi, ia menjadi sangat ingkar dan kufur terhadap nikmat-nikmat Allah yang telah ia rasakan sebelumnya. Ia melupakan semua kebaikan yang pernah Allah berikan, seakan-akan tidak pernah ada kebahagiaan dan kecukupan dalam hidupnya. Padahal, sesungguhnya Allah-lah yang memberi dan mencabut, dan Dia Maha Kuasa untuk mengembalikan segala sesuatu kapan pun Dia kehendaki.
Renungan dan Pesan Dakwah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang hakikat ujian dan nikmat. Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai keadaan—kadang dengan kelapangan, kadang dengan kesempitan. Namun, seorang mukmin yang sejati tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, karena ia yakin bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya.
Janganlah kita menjadi hamba yang hanya ingat kepada Allah saat diberi nikmat, lalu lupa dan berputus asa saat nikmat itu dicabut. Sesungguhnya putus asa dari rahmat Allah adalah salah satu ciri orang-orang yang tidak beriman, sebagaimana firman Allah: *"Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabb-nya, kecuali orang-orang yang sesat"* (QS. Al-Hijr: 56).
Oleh karena itu, mari kita hiasi hati kita dengan rasa syukur di kala lapang, dan dengan kesabaran serta harapan yang tinggi kepada Allah di kala sempit. Ingatlah bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan rahmat-Nya tidak pernah kering. Setiap ujian yang datang adalah bentuk kasih sayang-Nya untuk mengangkat derajat kita dan membersihkan dosa-dosa kita. Maka, berbaik sangkalah kepada Allah dalam segala keadaan, niscaya engkau akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki.
📜 Ayat 7-11 — Hud
Terjemah — Hud 9
Surat Hud Ayat 9 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari…Surat Ayat 9/123 — Hud هود (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Hud Dengarkan, Hud Terjemah, Hud mp3, Hud pdf. Ayat 7–11. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








