Terjemah — Tafsir
Makna Kata-kata Penting:
- Ibtalā (ابْتَلَى): Menguji atau memberikan cobaan.
- Bikalimāt (بِكَلِمَاتٍ): Dengan beberapa perintah dan larangan (syariat).
- Fa atammahunna (فَأَتَمَّهُنَّ): Maka ia menyempurnakan dan melaksanakannya dengan sempurna.
- Imāman (إِمَامًا): Pemimpin yang dijadikan teladan dan panutan.
- Dzurriyyatī (ذُرِّيَّتِي): Keturunanku.
- Lā yanālu (لَا يَنَالُ): Tidak akan mencapai/mendapatkan.
- ‘Ahdī (عَهْدِي): Perjanjian-Ku, yaitu janji Allah berupa kepemimpinan (imamah) dalam agama.
Tafsir Ayat:
Wahai Nabi Muhammad, ingatlah dan sampaikanlah kepada umatmu kisah agung ketika Allah menguji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan berbagai perintah dan larangan yang berat, berupa syariat-syariat yang mulia. Ibrahim melaksanakan semua ujian itu dengan penuh kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan, serta menyempurnakannya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak mengeluh, tidak ragu, dan tidak mengurangi sedikit pun dari apa yang diperintahkan kepadanya.
Ketika Ibrahim terbukti lulus dalam setiap ujian tersebut, Allah berfirman kepadanya: "Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai pemimpin (imam) bagi seluruh umat manusia. Engkau akan menjadi teladan dalam kebaikan, dan manusia akan mengikuti jejakmu dalam keimanan, akhlak, dan ibadah."
Mendengar kabar gembira yang agung ini, Nabi Ibrahim tidak serta-merta merasa cukup dengan dirinya sendiri. Dengan penuh kasih sayang dan kepedulian terhadap keturunannya, ia bermunajat: "Ya Rabb-ku, jadikanlah juga sebagian dari keturunanku sebagai pemimpin-pemimpin yang dijadikan teladan bagi manusia."
Allah menjawab permohonan Ibrahim dengan jawaban yang mengandung hikmah dan keadilan yang sempurna: "Perjanjian-Ku (berupa kepemimpinan dan kenabian) tidak akan diberikan kepada orang-orang yang zalim." Artinya, kepemimpinan dalam agama ini hanya diberikan kepada mereka yang bersih dari kezaliman, baik kezaliman terhadap diri sendiri (seperti syirik dan maksiat) maupun kezaliman terhadap sesama manusia. Orang yang zalim tidak akan layak memegang amanah kepemimpinan agama, meskipun ia berasal dari keturunan para nabi.
Hikmah dan Pelajaran:
Ayat yang mulia ini mengajarkan kepada kita bahwa kepemimpinan dalam agama adalah amanah yang sangat agung, yang hanya diberikan kepada hamba-hamba yang teruji keimanan dan ketakwaannya. Kepemimpinan bukanlah warisan keturunan semata, melainkan buah dari keikhlasan, kesabaran, dan ketaatan yang terbukti.
Kisah ini juga menunjukkan betapa tingginya kedudukan Nabi Ibrahim di sisi Allah, sehingga ia dijadikan teladan bagi seluruh umat manusia. Kita sebagai umat Islam patut bersyukur karena diperintahkan untuk mengikuti jejak beliau dalam ketauhidan, keikhlasan, dan kepasrahan total kepada Allah.
Yang lebih penting lagi, ayat ini menegaskan bahwa kezaliman adalah penghalang terbesar untuk mendapatkan pertolongan dan kepercayaan Allah. Maka, marilah kita senantiasa menjauhi segala bentuk kezaliman—baik syirik, kedzaliman terhadap sesama, maupun kedzaliman terhadap diri sendiri—agar kita termasuk hamba-hamba yang layak mendapatkan kasih sayang dan kepercayaan Allah di dunia dan di akhirat. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah dalam ketaatan dan dijauhkan dari segala bentuk kezaliman. Aamiin.
📜 Ayat 122-126 — Al-Baqarah
Terjemah — Al-Baqarah 124
Surat Al-Baqarah Ayat 124 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah…Surat Ayat 124/286 — Al-Baqarah البقرة (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Baqarah Dengarkan, Al-Baqarah Terjemah, Al-Baqarah mp3, Al-Baqarah pdf. Ayat 122–126. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








