Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ: pada saat penduduk kota sedang lengah dan tidak menyadari kehadirannya.
- يَقْتَتِلَانِ: dua orang yang sedang bertengkar dan berkelahi.
- شِيعَتِهِ: pengikut dan pendukungnya (dari kalangan Bani Israil).
- فَاسْتَغَاثَهُ: meminta pertolongan dan perlindungan.
- فَوَكَزَهُ: memukulnya dengan kepalan tangan.
- فَقَضَىٰ عَلَيْهِ: menyebabkan kematiannya.
- مُضِلٌّ مُّبِينٌ: penyesat yang jelas dan nyata permusuhannya.
Tafsir:
Kisah ini mengisahkan perjalanan hidup Nabi Musa 'alaihissalam sebelum diangkat menjadi rasul. Suatu ketika, beliau memasuki kota dengan sembunyi-sembunyi, tepat di saat penduduk kota sedang lengah dan sibuk dengan aktivitas mereka—sebagian ulama menyebutkan itu adalah hari raya mereka. Di dalam kota itu, beliau mendapati dua orang lelaki yang sedang bertengkar hebat dan saling pukul. Yang satu berasal dari kaumnya sendiri, yaitu Bani Israil, sementara yang lain berasal dari kaum musuhnya, yaitu bangsa Qibthi yang berada di bawah kekuasaan Fir'aun.
Orang dari Bani Israil itu meminta pertolongan kepada Musa untuk melawan lawannya yang berasal dari kaum musuh. Musa pun maju dan memukul orang Qibthi itu dengan kepalan tangannya. Pukulan itu ternyata sangat keras sehingga orang itu tewas seketika. Padahal Musa tidak berniat membunuhnya, ia hanya ingin membela dan melindungi orang yang terzalimi.
Saat itu juga Musa menyadari kesalahannya dan menyesali perbuatannya. Beliau berkata: "Ini adalah perbuatan setan yang telah membisikkan dan membangkitkan amarahku sehingga aku memukulnya hingga tewas. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, ia selalu berusaha menyesatkan manusia dari jalan yang benar." Peristiwa ini terjadi sebelum Musa diangkat menjadi nabi dan rasul, dan beliau segera bertobat kepada Allah atas kejadian tersebut.
Renungan dan Pelajaran:
Saudaraku yang dirahmati Allah, kisah ini mengajarkan kita betapa besarnya pengaruh bisikan setan dalam diri manusia. Bahkan seorang yang kelak menjadi nabi pun merasakan dampak dari hasutan setan ketika emosi menguasai diri. Namun yang membedakan adalah kesadaran dan kecepatan untuk kembali kepada Allah. Musa 'alaihissalam segera mengakui kesalahannya dan menyadari bahwa setanlah yang menjadi biang keladi kemarahannya.
Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua: jangan pernah meremehkan bisikan setan yang membangkitkan amarah. Ketika kita marah, setan akan memanfaatkan keadaan itu untuk menjerumuskan kita pada perbuatan yang kita sesali. Maka berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, kendalikan amarah, dan jadikan kesabaran sebagai perisai. Karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata, dan permusuhannya tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat.
Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya setan dan menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengendalikan diri. Aamiin.
📜 Ayat 13-17 — Al-Qasas
Terjemah — Al-Qasas 15
Surat Al-Qasas Ayat 15 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah,…Surat Ayat 15/88 — Al-Qasas القصص (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Qasas Dengarkan, Al-Qasas Terjemah, Al-Qasas mp3, Al-Qasas pdf. Ayat 13–17. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








