Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- ظَلَمْتُ نَفْسِي: Aku telah menzalimi diriku sendiri, yaitu dengan melakukan perbuatan yang membahayakan diriku di sisi Allah.
- فَاغْفِرْ لِي: Maka ampunilah dosaku, tutupilah dan hapuskanlah kesalahanku.
- الْغَفُورُ: Maha Pengampun, yang banyak mengampuni dosa-dosa hamba-Nya.
- الرَّحِيمُ: Maha Penyayang, yang melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya.
Tafsir Ayat:
Dalam ayat yang mulia ini, kita menyaksikan sebuah momen yang sangat mengharukan dari kehidupan Nabi Musa 'alaihissalam. Setelah peristiwa terbunuhnya seorang lelaki dari kaum Fir'aun yang terjadi di luar kehendaknya—karena ia hanya ingin melindungi seorang yang terzalimi dari Bani Israil—Nabi Musa segera tersadar dan menyesali perbuatannya. Beliau tidak menunda-nunda taubat, tidak mencari-cari alasan, dan tidak pula menyalahkan keadaan. Sebaliknya, dengan penuh ketundukan dan kerendahan hati, beliau menghadap kepada Rabbnya seraya berkata: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri"—mengakui kesalahannya dengan jujur dan tulus, tanpa berusaha membela diri atau mengurangi kadar kesalahannya.
Kemudian beliau memohon dengan sangat: "Maka ampunilah aku"—sebuah permohonan yang lahir dari hati yang benar-benar merasa butuh kepada ampunan Allah. Dan inilah salah satu keindahan taubat: seorang hamba yang berbuat salah tidak berputus asa dari rahmat Allah, tetapi segera kembali kepada-Nya dengan penuh harap dan takut.
Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, mengabulkan permohonan hamba-Nya yang mulia ini. Allah mengampuni dosa Nabi Musa 'alaihissalam, sebagaimana firman-Nya: "Maka Allah mengampuninya." Sungguh, Allah adalah الْغَفُورُ—Yang Maha Pengampun—yang tidak pernah bosan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya yang memohon ampunan, dan الرَّحِيمُ—Yang Maha Penyayang—yang melimpahkan kasih sayang-Nya kepada mereka yang kembali kepada-Nya.
Pelajaran dan Hikmah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang indahnya taubat. Perhatikanlah bagaimana Nabi Musa 'alaihissalam, seorang nabi yang mulia, ketika melakukan kesalahan, beliau tidak merasa gengsi atau malu untuk mengakui kesalahannya di hadapan Allah. Beliau langsung mengakui dengan jujur: "Aku telah menzalimi diriku sendiri." Ini menunjukkan bahwa pengakuan dosa adalah langkah pertama menuju ampunan.
Ayat ini juga mengajarkan kita bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni Allah selama hamba-Nya mau kembali kepada-Nya dengan taubat yang tulus. Allah tidak pernah menutup pintu ampunan bagi hamba-Nya, kapan pun dan di mana pun. Maka janganlah pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena Allah berfirman: *"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'"* (QS. Az-Zumar: 53).
Marilah kita jadikan momen ini sebagai pengingat bagi diri kita: setiap kali kita berbuat salah, baik yang besar maupun yang kecil, hendaknya kita segera beristighfar dan kembali kepada Allah dengan hati yang tunduk dan penuh harap. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang banyak bertaubat dan bersuci diri.
📜 Ayat 14-18 — Al-Qasas
Terjemah — Al-Qasas 16
Surat Al-Qasas Ayat 16 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Musa mendoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri…Surat Ayat 16/88 — Al-Qasas القصص (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Qasas Dengarkan, Al-Qasas Terjemah, Al-Qasas mp3, Al-Qasas pdf. Ayat 14–18. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








