Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- حَاجَّ (hājja): Berdebat, berbantah, atau bertengkar dengan argumentasi.
- أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ (an ātāhu Allāhul-mulka): Karena Allah telah memberinya kekuasaan (kerajaan), sehingga ia menjadi sombong dan angkuh.
- فَبُهِتَ (fabuhita): Tertegun, bingung, tercengang, dan kehabisan alasan; hujahnya hancur total.
- الظَّالِمِينَ (azh-zhālimīn): Orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri dengan kekufuran dan kesombongan.
Tafsir Ayat:
Wahai Nabi Muhammad, apakah engkau tidak memperhatikan dan merenungkan kisah yang sangat menakjubkan tentang seorang raja yang sombong dan lalim yang berdebat dengan Nabi Ibrahim tentang ketuhanan dan kekuasaan Allah? Raja itu bernama Namrud, yang diberikan Allah kekuasaan dan kerajaan yang besar. Namun, alih-alih bersyukur, ia justru menjadi sombong dan mengingkari Tuhannya. Ia berdebat dengan Ibrahim dengan penuh kesombongan dan keangkuhan.
Ketika Ibrahim berkata kepadanya, "Tuhanku adalah Dzat yang menghidupkan dan mematikan," yaitu Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian bagi seluruh makhluk-Nya. Maka Namrud menjawab dengan congkak, "Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan!" Ia lalu memanggil dua orang tahanan, membunuh salah satunya dan membebaskan yang lain, menganggap bahwa membunuh berarti mematikan dan membebaskan berarti menghidupkan. Ini adalah kebodohan yang nyata, karena menghidupkan yang sebenarnya adalah mengembalikan ruh ke dalam jasad yang telah mati, bukan sekadar membiarkan seseorang tetap hidup.
Maka Nabi Ibrahim—dengan hikmah yang luar biasa—beralih kepada hujah yang lebih jelas dan lebih kuat, yang membuat lawannya tidak mampu berkelit. Ia berkata, "Sesungguhnya Allah mendatangkan matahari dari arah timur. Kalau engkau benar-benar bisa menghidupkan dan mematikan, maka datangkanlah matahari dari arah barat!" Ini adalah tantangan yang sangat tegas dan logis. Namrud pun terdiam, tercengang, dan kehabisan akal. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Hujahnya hancur, dan ia pun kalah telak di hadapan kebenaran yang dibawa Ibrahim.
Allah menutup kisah ini dengan firman-Nya: *"Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."* Ini adalah pelajaran berharga bahwa kezaliman dan kesombongan akan menghalangi seseorang dari hidayah Allah. Orang yang hatinya dipenuhi kesombongan dan keingkaran tidak akan pernah mendapatkan petunjuk kebenaran, karena ia sendiri yang menutup pintu hidayah itu.
Renungan dan Pelajaran:
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kebenaran akan selalu menang meskipun dihadapi dengan kekuasaan dan kesombongan. Nabi Ibrahim tidak gentar menghadapi raja yang lalim; ia berdiri teguh dengan hujah yang kuat dan penuh hikmah. Ini menunjukkan bahwa ilmu dan keyakinan yang benar adalah senjata paling ampuh dalam menghadapi kebatilan.
Saudaraku, betapa indahnya Islam yang mengajarkan kita untuk selalu berpikir, merenung, dan menggunakan akal sehat dalam mengenal Allah. Alam semesta ini adalah bukti nyata kebesaran-Nya. Matahari yang terbit dari timur dan terbenam di barat setiap hari adalah tanda kekuasaan Allah yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun. Maka, mari kita jadikan kisah ini sebagai penguat iman kita, dan mari kita selalu merendahkan hati di hadapan Allah, karena kesombongan adalah penghalang terbesar untuk mendapatkan hidayah-Nya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menjauhkan kita dari sifat sombong dan zalim. Aamiin.
📜 Ayat 256-260 — Al-Baqarah
Terjemah — Al-Baqarah 258
Surat Al-Baqarah Ayat 258 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya…Surat Ayat 258/286 — Al-Baqarah البقرة (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Baqarah Dengarkan, Al-Baqarah Terjemah, Al-Baqarah mp3, Al-Baqarah pdf. Ayat 256–260. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








