Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Qaanit (قَانِتٌ): Taat dan khusyuk dalam beribadah, senantiasa tunduk kepada Allah.
- Aanaa-allail (آنَاءَ اللَّيْلِ): Jamak dari *inâ`*, artinya jam-jam atau waktu-waktu di malam hari.
- Yahdzar (يَحْذَرُ): Merasa takut dan waspada.
- Ulul-albaab (أُولُو الْأَلْبَابِ): Orang-orang yang memiliki akal yang sehat dan murni, yang mampu mengambil pelajaran.
Tafsir Ayat:
Allah Ta'ala mengajukan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah hati nurani: Apakah orang kafir yang tenggelam dalam kesenangan dunia dan kemaksiatan itu lebih baik, ataukah seorang hamba yang taat dan patuh kepada Rabb-nya, yang menghabiskan waktu-waktu malamnya dalam keadaan bersujud dan berdiri untuk melaksanakan shalat? Ia menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, dalam keadaan takut akan azab akhirat dan berharap akan rahmat serta ampunan Tuhannya. Ia adalah hamba yang selalu berada di antara rasa takut dan harap, tidak merasa aman dari siksa Allah dan tidak pula berputus asa dari rahmat-Nya.
Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk menyampaikan sebuah kebenaran yang tegas: "Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui (kebenaran, mengenal Rabb mereka, dan mengamalkan ilmunya) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (kebenaran, sehingga mereka tersesat dalam kebodohan dan kesyirikan)?" Tentu saja tidak sama, sebagaimana tidak samanya cahaya dan kegelapan, atau kehidupan dan kematian.
Ayat ini juga mengandung dorongan yang sangat besar untuk menuntut ilmu syar'i, karena ilmu adalah cahaya yang mengantarkan pemiliknya kepada ketakwaan dan amal shalih. Orang yang berilmu akan mengenal Tuhannya, sehingga ia beribadah dengan bashirah (keyakinan), sedangkan orang yang jahil akan terombang-ambing dalam kesesatan.
Di akhir ayat, Allah menegaskan bahwa hanya orang-orang yang memiliki akal yang sehat (ulul-albaab) yang dapat mengambil pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan dan ayat-ayat Allah. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan akalnya untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah, sehingga hati mereka tersentuh dan jiwa mereka menjadi tenang dalam ketaatan.
Pesan Dakwah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajak kita untuk merenungkan tujuan hidup yang sebenarnya. Tidakkah kita ingin menjadi hamba yang qaanit, yang berdiri di hadapan Allah di kegelapan malam, bermunajat dan merendahkan diri? Sungguh, kenikmatan bermunajat kepada Allah di waktu sahur adalah kenikmatan yang tidak dapat dirasakan oleh mereka yang lalai. Setiap sujud yang kita panjatkan, setiap air mata yang menetes karena takut kepada-Nya, akan menjadi saksi bagi kita di hari kiamat.
Marilah kita jadikan ilmu sebagai cahaya kehidupan kita. Dengan ilmu, kita akan tahu bagaimana cara beribadah yang benar, bagaimana cara meraih cinta Allah, dan bagaimana cara selamat dari azab-Nya. Jangan pernah berhenti belajar, karena keutamaan orang berilmu atas orang ahli ibadah yang jahil sangatlah besar.
Ingatlah, hanya orang-orang yang berakal sehatlah yang mampu mengambil pelajaran. Maka, mari kita bersihkan hati dan pikiran kita, agar kita termasuk dalam golongan ulul-albaab yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, dan merenungkan keagungan ciptaan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang qaanit di malam hari dan bersyukur di siang hari. Aamiin.
📜 Ayat 7-11 — Az-Zumar
Terjemah — Az-Zumar 9
Surat Az-Zumar Ayat 9 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang…Surat Ayat 9/75 — Az-Zumar الزمر (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Az-Zumar Dengarkan, Az-Zumar Terjemah, Az-Zumar mp3, Az-Zumar pdf. Ayat 7–11. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








