Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- حَفِيظًا (Hafizhan): Penjaga yang mengawasi dan mencatat seluruh amal perbuatan mereka.
- الْبَلَاغُ (Al-Balagh): Menyampaikan risalah dan perintah Allah secara sempurna.
- أَذَقْنَا (Adzaqna): Memberikan nikmat dan merasakan kebahagiaan.
- سَيِّئَةٌ (Sayyi'ah): Musibah, bencana, atau keburukan yang menimpa.
- كَفُورٌ (Kafur): Sangat ingkar dan tidak mengenal budi, mengingkari nikmat Allah.
Tafsir Ayat:
Wahai Rasulullah, jika mereka tetap berpaling dari seruanmu dan tidak mau menerima kebenaran yang engkau bawa, maka janganlah engkau bersedih dan jangan pula memaksakan diri. Sesungguhnya Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas yang menjaga dan menghitung amal perbuatan mereka, karena tugasmu hanyalah menyampaikan risalah dengan sebaik-baiknya. Adapun hisab dan pembalasan mereka, itu sepenuhnya urusan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kemudian Allah menjelaskan tabiat manusia yang sering kali lemah dan tidak konsisten. Apabila Kami memberikan nikmat kepadanya berupa kekayaan, kesehatan, dan kesenangan duniawi, ia pun bergembira dengan penuh kesombongan dan lupa bahwa semua itu berasal dari Allah. Namun ketika musibah menimpanya—entah itu kemiskinan, penyakit, atau cobaan lainnya—akibat dari dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya sendiri, maka ia menjadi sangat ingkar, mengeluh, dan tidak bersyukur. Ia sibuk menghitung musibah yang menimpanya dan melupakan segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepadanya.
Sungguh, inilah pelajaran berharga bagi kita semua. Manusia sering kali lupa diri ketika senang dan berputus asa ketika susah. Padahal, kedua keadaan itu adalah ujian dari Allah. Nikmat adalah ujian syukur, dan musibah adalah ujian kesabaran.
Renungan dan Hikmah:
Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kita tentang kemuliaan akhlak seorang da'i. Seorang pendakwah tidak boleh merasa terbebani dengan keengganan manusia menerima kebenaran. Tugas kita hanyalah menyampaikan dengan hikmah dan kelembutan, sementara hidayah sepenuhnya milik Allah.
Ayat ini juga mengingatkan kita agar senantiasa menjadi hamba yang bersyukur. Ketika Allah memberikan nikmat, hendaknya kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan malah sombong dan lupa diri. Dan ketika musibah datang, janganlah kita menjadi hamba yang kufur dan berputus asa. Ingatlah bahwa musibah adalah ujian yang akan menghapus dosa-dosa kita jika kita bersabar.
Marilah kita perbaiki hubungan kita dengan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Jadikanlah setiap nikmat sebagai sarana bersyukur, dan setiap ujian sebagai sarana bersabar. Karena sesungguhnya, orang yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa dan paling bersyukur. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dan sabar dalam menghadapi segala ketentuan-Nya. Aamiin.
📜 Ayat 46-50 — Asy-Syura
Terjemah — Asy-Syura 48
Surat Asy-Syura Ayat 48 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas…Surat Ayat 48/53 — Asy-Syura الشورى (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Asy-Syura Dengarkan, Asy-Syura Terjemah, Asy-Syura mp3, Asy-Syura pdf. Ayat 46–50. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








