Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Ahadā (أَهْدَىٰ): Lebih lurus, lebih benar, atau lebih petunjuk kepada kebenaran.
- Wajadtum (وَجَدتُّمْ): Kalian dapati atau kalian temui.
- Kāfirūn (كَافِرُونَ): Orang-orang yang mengingkari, menolak, dan tidak percaya.
Tafsir Ayat:
Dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabadikan dialog antara para rasul dengan kaum mereka yang membangkang. Ketika kaum musyrik berdalih, "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak mereka," maka para rasul menjawab dengan pertanyaan yang tegas dan logis: "Apakah kalian akan tetap mengikuti nenek moyang kalian, walaupun aku datang membawa ajaran yang lebih lurus dan lebih benar daripada apa yang kalian dapati pada nenek moyang kalian?"
Pertanyaan ini adalah sanggahan yang sangat kuat terhadap sikap taklid buta (ikut-ikutan tanpa berpikir). Para rasul mengajak kaumnya untuk menggunakan akal sehat, karena kebenaran tidak diukur dengan seberapa tua warisan nenek moyang, melainkan dengan seberapa sesuai dengan petunjuk Allah. Namun, kaum yang keras kepala itu menjawab dengan penuh kesombongan dan keangkuhan: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kalian diutus untuk membawanya." Mereka menolak kebenaran yang jelas, bukan karena kebenaran itu salah, tetapi karena kesombongan dan kecintaan mereka yang berlebihan kepada tradisi warisan nenek moyang.
Ayat ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Betapa banyak manusia yang menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu datang dari orang yang tidak mereka sukai, atau karena mereka sudah nyaman dengan kebiasaan lama yang diwariskan turun-temurun, meskipun kebiasaan itu bertentangan dengan petunjuk Allah. Padahal, seorang mukmin sejati adalah yang selalu haus akan kebenaran, di mana pun dan dari siapa pun kebenaran itu datang. Islam mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang kritis, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan selalu mengutamakan dalil serta bukti kebenaran di atas kebiasaan dan tradisi.
Saudaraku, mari kita renungkan betapa indahnya ajaran Islam yang membebaskan akal dari belenggu taklid buta. Islam tidak pernah meminta kita untuk meninggalkan warisan leluhur secara membabi buta, tetapi Islam mengajak kita untuk menimbang segala sesuatu dengan timbangan wahyu. Jika warisan itu baik dan sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, maka kita pertahankan. Namun, jika bertentangan, maka tidak ada pilihan lain kecuali meninggalkannya demi meraih ridha Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang cinta kebenaran dan selalu istiqamah di atas petunjuk-Nya. Aamiin.
📜 Ayat 22-26 — Az-Zukhruf
Terjemah — Az-Zukhruf 24
Surat Az-Zukhruf Ayat 24 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : (Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku…Surat Ayat 24/89 — Az-Zukhruf الزخرف (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Az-Zukhruf Dengarkan, Az-Zukhruf Terjemah, Az-Zukhruf mp3, Az-Zukhruf pdf. Ayat 22–26. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








