Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Marjuwwan (مَرْجُوًّا): orang yang diharapkan kebaikannya, dipandang mulia, dan dihormati.
- Murīb (مُرِيبٍ): yang menimbulkan keraguan dan kegelisahan dalam hati, membuat hati tidak tenang.
Tafsir Ayat:
Kaum Tsamud berkata kepada Nabi mereka, Nabi Shalih 'alaihissalam, dengan nada heran dan kecewa: "Wahai Shalih, sesungguhnya sebelum engkau menyampaikan dakwah ini, engkau adalah orang yang kami harapkan menjadi pemimpin dan panutan kami. Kami sangat menghormatimu dan memandangmu sebagai pribadi yang bijaksana, cerdas, dan layak dijadikan tempat bermusyawarah dalam urusan kami."
Namun setelah engkau datang dengan ajaran tauhid, mengajak kami meninggalkan sesembahan nenek moyang kami, engkau berubah di mata kami. Mereka melanjutkan dengan nada mengingkari: "Apakah engkau melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak leluhur kami? Engkau hendak memutus tradisi yang telah kami warisi turun-temurun?"
Kemudian mereka menutup perkataan dengan sikap ragu yang penuh kegelisahan: "Dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang meresahkan hati terhadap apa yang engkau serukan kepada kami, yaitu ibadah kepada Allah semata. Kami tidak yakin apakah ajaranmu itu benar atau engkau hanya mengada-ada."
Renungan dan Pelajaran:
Sungguh, inilah keadaan orang-orang yang telah terbutakan oleh warisan nenek moyang. Mereka menilai kebenaran bukan dari dalil dan bukti, melainkan dari sejauh mana ajaran itu sesuai dengan tradisi yang mereka warisi. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus para rasul dengan bukti-bukti yang nyata.
Ketika seseorang telah lama hidup dalam kebiasaan, maka kebenaran yang datang terasa asing dan mengganggu. Namun ingatlah, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan sejati bukanlah diukur dari seberapa banyak pengikut atau seberapa tinggi kedudukan sosial, melainkan dari sejauh mana kita tunduk kepada kebenaran. Nabi Shalih 'alaihissalam adalah orang yang mulia di mata kaumnya, tetapi ketika beliau membawa kebenaran yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka, mereka pun berpaling dan meragukannya.
Janganlah kita menjadi seperti kaum Tsamud yang menolak kebenaran hanya karena merasa asing dengannya. Sesungguhnya Islam adalah agama fitrah yang sesuai dengan akal yang sehat dan hati yang bersih. Ketika hati kita bersih dan ikhlas mencari kebenaran, maka Allah akan memudahkan kita untuk menerima petunjuk-Nya. Sebaliknya, ketika hati telah dipenuhi oleh kesombongan dan keterikatan buta terhadap tradisi, maka kebenaran akan terasa asing dan menimbulkan keraguan yang meresahkan.
Marilah kita senantiasa membuka hati dan pikiran untuk menerima kebenaran, di mana pun ia berada, dan menjadikan Al-Qur'an serta sunnah sebagai pedoman hidup kita. Karena hanya dengan itulah hati kita akan tenang dan damai, sebagaimana firman Allah: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).
📜 Ayat 60-64 — Hud
Terjemah — Hud 62
Surat Hud Ayat 62 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Kaum Tsamud berkata: "Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah…Surat Ayat 62/123 — Hud هود (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Hud Dengarkan, Hud Terjemah, Hud mp3, Hud pdf. Ayat 60–64. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








