Terjemah — Tafsir
### معاني الكلمات
- الْمَنّ: makanan manis yang diturunkan Allah kepada Bani Israil di padang pasir, seperti getah tumbuhan yang manis.
- السَّلْوَى: burung puyuh yang diturunkan Allah kepada mereka sebagai makanan.
- بَقْلِهَا: sayur-sayuran hijau yang tumbuh dari bumi.
- قِثَّائِهَا: mentimun atau sejenisnya yang lebih besar, dikenal juga dengan nama *khiyar*.
- فُومِهَا: gandum atau biji-bijian yang dijadikan roti; ada pula yang menafsirkan sebagai bawang putih.
- عَدَسِهَا: kacang adas (lentil).
- بَصَلِهَا: bawang merah.
- أَدْنَى: lebih rendah, hina, dan kurang nilainya.
- الذِّلَّةُ: kehinaan dan kerendahan.
- الْمَسْكَنَةُ: kemiskinan jiwa dan kefakiran hati.
- بَاءُوا: kembali atau pulang dengan membawa.
- يَعْتَدُونَ: melampaui batas dan melanggar aturan Allah.
### تفسير الآية الكريمة
Wahai Bani Israil, ingatlah ketika kalian diberi nikmat oleh Allah berupa makanan yang lezat dan bergizi, yaitu *mann* (makanan manis) dan *salwa* (burung puyuh), yang turun dari langit tanpa usaha dan jerih payah. Namun, kalian tidak bersyukur dan cepat bosan. Kalian berkata kepada Nabi Musa: "Wahai Musa, kami tidak akan sabar dengan satu jenis makanan saja. Kami ingin makanan yang lebih bervariasi dari tumbuhan bumi, seperti sayur-sayuran, mentimun, gandum, kacang adas, dan bawang merah. Maka mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan untuk kami dari bumi makanan-makanan itu."
Nabi Musa pun menjawab dengan penuh keheranan dan mencela sikap kalian: "Apakah kalian ingin menukar yang lebih baik dengan yang lebih rendah? Kalian meninggalkan makanan yang mulia, yang datang tanpa susah payah, dan memilih makanan yang hina yang harus kalian tanam dan usahakan sendiri? Kalau begitu, turunlah kalian ke kota mana pun, karena di sana kalian akan mendapatkan apa yang kalian minta di ladang-ladang dan pasar-pasar."
Namun, karena sikap mereka yang selalu menentang pilihan Allah dan lebih mengutamakan hawa nafsu, maka Allah menghukum mereka dengan kehinaan dan kemiskinan jiwa yang melekat sepanjang zaman. Mereka pun kembali dengan membawa murka Allah karena mereka ingkar terhadap ayat-ayat-Nya, bahkan tega membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Semua itu disebabkan oleh kedurhakaan dan pelanggaran mereka yang terus-menerus terhadap perintah Allah.
### Pesan dan Pelajaran
Saudaraku, ayat ini mengajarkan kita betapa pentingnya mensyukuri nikmat Allah dan tidak mudah bosan dengan pemberian-Nya. Bani Israil diberi makanan terbaik dari langit, namun mereka meremehkannya dan meminta yang lebih rendah. Akibatnya, mereka kehilangan kemuliaan dan ditimpa kehinaan.
Renungkanlah, wahai saudara seiman! Betapa banyak nikmat Allah yang kita terima setiap hari, namun kita sering tidak menyadarinya. Makanan yang halal dan bergizi, kesehatan, keamanan, dan iman adalah nikmat yang tak ternilai. Janganlah kita menjadi hamba yang tidak pernah puas dan selalu mengeluh, karena sikap seperti itu hanya akan menjauhkan kita dari rahmat Allah.
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk ridha dengan ketentuan Allah dan bersabar dalam segala keadaan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya." (HR. Muslim)
Marilah kita jadikan ayat ini sebagai pelajaran berharga agar kita selalu menjadi hamba yang bersyukur, sabar, dan taat kepada Allah, sehingga kita terhindar dari kehinaan dunia dan akhirat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai dan dimuliakan. Aamiin.
📜 Ayat 59-63 — Al-Baqarah
Terjemah — Al-Baqarah 61
Surat Al-Baqarah Ayat 61 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa…Surat Ayat 61/286 — Al-Baqarah البقرة (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Baqarah Dengarkan, Al-Baqarah Terjemah, Al-Baqarah mp3, Al-Baqarah pdf. Ayat 59–63. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








