Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- الطُّوفَان (Ath-Thufan): Banjir besar atau air bah yang meluap dan menenggelamkan segala sesuatu.
- الْجَرَاد (Al-Jarad): Belalang yang menyerang dan memakan tanaman serta tumbuhan.
- الْقُمَّل (Al-Qummal): Kutu atau sejenis serangga kecil yang merusak tanaman, bisa juga berupa belalang kecil tak bersayap atau kutu yang mengganggu manusia.
- الضَّفَادِع (Adh-Dhafadi'): Katak yang memenuhi rumah, makanan, dan tempat tidur mereka.
- الدَّم (Ad-Dam): Darah yang tampak jelas pada air sungai dan sumur mereka.
- آيَاتٍ مُّفَصَّلَاتٍ (Ayatim Mufashshalat): Tanda-tanda kekuasaan Allah yang terperinci dan jelas, satu demi satu secara berurutan.
Tafsir Ayat:
Wahai saudaraku seiman, renungkanlah kebesaran Allah dalam ayat ini! Ketika Fir'aun dan kaumnya terus-menerus mendustakan Nabi Musa 'alaihissalam dan menolak kebenaran, Allah mengirimkan kepada mereka berbagai azab yang bertubi-tubi sebagai bukti kekuasaan-Nya yang tak terbantahkan.
Pertama, Allah mengirimkan banjir besar yang meluap dan menghancurkan ladang-ladang serta kebun-kebun mereka. Air bah itu masuk ke rumah-rumah mereka bahkan hingga mencapai leher mereka, sehingga mereka tidak bisa beraktivitas dan bertani. Kemudian, ketika banjir surut, Allah mengirimkan belalang yang memakan habis seluruh tanaman dan buah-buahan mereka, bahkan sampai memakan pintu, atap, dan pakaian mereka. Lalu datanglah kutu atau serangga kecil yang menghabiskan sisa-sisa tanaman yang belum dimakan belalang, merusak panen mereka, dan mengganggu tubuh mereka. Setelah itu, Allah mengirimkan katak yang memenuhi rumah, tempat tidur, makanan, dan minuman mereka, sehingga mereka tidak bisa tidur nyenyak dan hidup dalam kekotoran. Akhirnya, Allah mengirimkan darah yang jelas terlihat dalam air sungai dan sumur-sumur mereka, sehingga mereka tidak mendapatkan setetes pun air bersih untuk diminum.
Semua azab ini datang silih berganti sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah yang terperinci dan nyata, yang tidak mampu ditiru oleh siapa pun. Setiap kali satu azab datang, mereka berteriak memohon kepada Musa agar berdoa kepada Tuhannya untuk mengangkat azab itu, dengan janji akan beriman. Namun, ketika azab itu diangkat, mereka kembali ingkar dan berlaku sombong.
Meskipun telah menyaksikan mukjizat-mukjizat yang begitu jelas, mereka tetap menyombongkan diri dan enggan beriman kepada Allah. Mereka adalah kaum yang tenggelam dalam kemaksiatan dan kejahatan, tidak mau berhenti dari kebatilan dan tidak mau menuju kebenaran. Keangkuhan mereka menghalangi hati mereka untuk menerima petunjuk.
Renungan dan Pelajaran:
Saudaraku, kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi pelajaran berharga bagi kita semua. Betapa sombongnya hati manusia ketika menolak kebenaran yang sudah jelas! Fir'aun dan kaumnya menyaksikan sendiri mukjizat yang luar biasa, namun kesombongan dan kecintaan mereka pada kedudukan serta kemaksiatan membuat mereka buta terhadap kebenaran.
Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu merendahkan hati di hadapan Allah, tidak sombong terhadap kebenaran, dan segera bertobat ketika melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Jangan sampai kita menjadi seperti kaum Fir'aun yang baru beriman ketika azab datang, lalu kembali ingkar setelah azab diangkat. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang rendah hati, mudah menerima nasihat, dan istiqamah di atas kebenaran hingga akhir hayat. Aamiin.
📜 Ayat 131-135 — Al-A'raf
Terjemah — Al-A'raf 133
Surat Al-A'raf Ayat 133 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan…Surat Ayat 133/206 — Al-A'raf الأعراف (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-A'raf Dengarkan, Al-A'raf Terjemah, Al-A'raf mp3, Al-A'raf pdf. Ayat 131–135. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








