Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- اخْتَارَ: memilih dan mengistimewakan.
- لِمِيقَاتِنَا: untuk waktu yang telah ditentukan dan dijanjikan Allah.
- الرَّجْفَةُ: gempa bumi yang dahsyat dan getaran keras yang menghancurkan.
- السُّفَهَاءُ: orang-orang yang kurang akal dan bodoh dalam mengambil keputusan.
- فِتْنَتُكَ: ujian dan cobaan dari-Mu.
- وَلِيُّنَا: yang mengurus dan melindungi kami.
Tafsir Ayat:
Nabi Musa 'alaihissalam memilih tujuh puluh orang dari kalangan terbaik kaumnya untuk pergi ke bukit Tur (Sinai) pada waktu yang telah dijanjikan Allah, sebagai bentuk pertobatan dan permohonan maaf atas perbuatan buruk yang dilakukan oleh sebagian Bani Israil yang menyembah patung anak sapi. Namun, ketika mereka tiba di tempat tersebut, mereka justru lancang berkata kepada Nabi Musa: "Wahai Musa, kami tidak akan percaya kepadamu sampai kami melihat Allah secara langsung dan nyata!" Maka Allah menimpakan kepada mereka gempa bumi yang sangat dahsyat, sehingga mereka semua mati seketika.
Melihat kejadian itu, Nabi Musa bersedih dan berdoa dengan penuh ketundukan kepada Rabbnya: "Ya Tuhanku, jika Engkau berkehendak, tentu Engkau telah membinasakan mereka dan aku juga sebelum datang ke tempat ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami semua disebabkan perbuatan orang-orang yang kurang akal dari kalangan kami? Sungguh, apa yang terjadi pada kaumku—yaitu penyembahan mereka terhadap anak sapi—hanyalah ujian dan cobaan dari-Mu. Engkau menyesatkan dengan ujian itu siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pelindung dan penolong kami, maka ampunilah dosa-dosa kami dan rahmatilah kami, karena Engkau adalah sebaik-baiknya pemberi ampunan."
Ayat ini mengajarkan kepada kita beberapa pelajaran berharga:
- Keutamaan memilih orang-orang terbaik untuk urusan penting — Nabi Musa memilih tujuh puluh orang terbaik dari kaumnya, menunjukkan bahwa urusan agama dan dakwah hendaknya diemban oleh orang-orang pilihan yang memiliki kualitas keimanan.
- Sikap rendah hati dan tunduk kepada Allah dalam doa — Nabi Musa tidak marah atau putus asa, tetapi ia segera berlindung kepada Allah dengan doa yang penuh pengharapan, memohon ampunan dan rahmat. Ini mengajarkan kita bahwa dalam setiap musibah, hendaknya kita kembali kepada Allah dengan hati yang khusyuk.
- Keadilan Allah dan hikmah di balik ujian — Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Ujian dan cobaan yang Allah berikan adalah bagian dari kebijaksanaan-Nya yang sempurna. Sebagai hamba, kita tidak boleh mempertanyakan ketetapan Allah, tetapi hendaknya bersabar dan terus berdoa.
- Keutamaan memohon ampunan — Nabi Musa menutup doanya dengan memohon ampunan dan rahmat, serta mengakui bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pemberi ampunan. Ini adalah teladan indah bagi kita: jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena ampunan-Nya meliputi segala dosa bagi siapa saja yang bertaubat dengan tulus.
Semoga kita semua senantiasa menjadi hamba yang dekat dengan Allah, yang selalu berlindung kepada-Nya dalam setiap keadaan, dan yang tidak pernah berhenti memohon ampunan serta rahmat-Nya. Aamiin.
📜 Ayat 153-157 — Al-A'raf
Terjemah — Al-A'raf 155
Surat Al-A'raf Ayat 155 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan…Surat Ayat 155/206 — Al-A'raf الأعراف (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-A'raf Dengarkan, Al-A'raf Terjemah, Al-A'raf mp3, Al-A'raf pdf. Ayat 153–157. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








