Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Sulit:
- Mubasysyirin: Para pemberi kabar gembira.
- Mundzirin: Para pemberi peringatan.
- Yujadilu: Berdebat atau berbantahan.
- Bil-bathil: Dengan kebatilan, yaitu segala sesuatu yang menyelisihi kebenaran.
- Liyudhidhu: Untuk menghilangkan atau membatalkan.
- Huzuwan: Bahan ejekan dan olok-olokan.
Tafsir Ayat:
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan hikmah diutusnya para rasul, yaitu tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun melainkan untuk menjadi pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa mereka akan memperoleh surga yang penuh kenikmatan, serta pemberi peringatan kepada orang-orang yang kafir dan durhaka akan azab neraka yang pedih. Ini adalah tugas mulia yang diemban oleh seluruh nabi dan rasul, dan mereka tidak memiliki kekuasaan untuk memaksa hati manusia agar beriman, karena hidayah sepenuhnya di tangan Allah.
Meskipun kebenaran telah datang dengan jelas dan nyata, orang-orang kafir tetap membantah dan berdebat dengan para rasul menggunakan kebatilan mereka. Mereka bertengkar bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk memadamkan cahaya Allah dan menghilangkan kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Mereka mengajukan permintaan-permintaan mustahil dan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mengejek, seperti menanyakan kisah Ashabul Kahfi, semata-mata untuk membatalkan dakwah yang hak.
Yang lebih menyedihkan lagi, mereka menjadikan ayat-ayat Al-Qur'an dan peringatan tentang azab yang akan menimpa mereka sebagai bahan tertawaan dan ejekan. Mereka tidak mengambil pelajaran sedikit pun, bahkan semakin tenggelam dalam kesesatan dan keangkuhan.
Renungan dan Pelajaran:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa perjuangan menegakkan kebenaran senantiasa menghadapi tantangan dari orang-orang yang membenci kebenaran itu sendiri. Namun janganlah kita gentar, karena tugas para rasul dan pengikutnya hanyalah menyampaikan kabar gembira dan peringatan dengan penuh keikhlasan. Adapun hidayah, itu sepenuhnya hak prerogatif Allah.
Renungkanlah betapa indahnya akhlak para rasul yang tidak pernah membalas kebatilan dengan kebatilan, tidak membalas ejekan dengan ejekan, tetapi mereka terus bersabar dan tetap menyampaikan risalah dengan penuh kasih sayang. Inilah teladan mulia yang harus kita contoh dalam berdakwah di tengah masyarakat yang beragam, bahkan ketika ada yang menghina dan mengejek ajaran kita.
Ayat ini juga mengingatkan kita agar tidak termasuk golongan yang mempermainkan ayat-ayat Allah. Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk dan rahmat, bukan untuk dijadikan bahan olok-olokan. Maka jadilah hamba-hamba yang memuliakan kitab suci kita, merenungi maknanya, dan mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Al-Qur'an dan mengamalkannya akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta syafaat dari Al-Qur'an pada hari kiamat kelak.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mencintai kebenaran, membela agama-Nya, dan menjauhi segala bentuk perdebatan yang sia-sia. Aamiin.
📜 Ayat 54-58 — Al-Kahf
Terjemah — Al-Kahf 56
Surat Al-Kahf Ayat 56 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira…Surat Ayat 56/110 — Al-Kahf الكهف (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Kahf Dengarkan, Al-Kahf Terjemah, Al-Kahf mp3, Al-Kahf pdf. Ayat 54–58. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








