Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata yang Perlu Dijelaskan:
- لِمِيقَاتِنَا: pada waktu yang telah Kami tentukan, yaitu genap empat puluh malam.
- أَرِنِي: perlihatkanlah kepada diriku (agar aku dapat melihat-Mu).
- لَن تَرَانِي: engkau tidak akan sanggup melihat-Ku (di dunia).
- تَجَلَّى: menampakkan diri dengan cahaya keagungan-Nya.
- دَكًّا: hancur lebur, rata dengan tanah.
- صَعِقًا: pingsan, jatuh tak sadarkan diri.
- أَفَاقَ: sadar kembali dari pingsannya.
- سُبْحَانَكَ: Maha Suci Engkau (dari segala kekurangan dan hal yang tidak layak bagi keagungan-Mu).
Tafsir Ayat:
Ketika Nabi Musa 'alaihissalam tiba pada waktu yang telah Allah tentukan untuk bermunajat, yaitu genap empat puluh malam, dan Allah mulai berbicara langsung kepadanya dengan wahyu, perintah, dan larangan-Nya, maka hati Nabi Musa dipenuhi kerinduan yang sangat dalam kepada Allah. Beliau yang telah dianugerahi kehormatan berbicara langsung dengan Rabb-nya, tergerak untuk memohon sesuatu yang lebih agung lagi, yaitu memandang kepada Allah dengan mata kepalanya. Maka beliau berkata, *"Ya Rabb-ku, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu."*
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab dengan penuh kasih sayang namun tegas, *"Engkau sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku di dunia ini,"* karena keterbatasan manusia yang fana tidak mampu menanggung keagungan cahaya Allah. Namun untuk memberikan pelajaran dan ketenangan kepada Nabi Musa, Allah berfirman, *"Akan tetapi lihatlah ke arah gunung itu. Jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya, maka engkau akan dapat melihat-Ku."* Ini adalah ujian yang menunjukkan bahwa gunung yang kokoh dan besar pun tidak akan mampu bertahan saat Allah menampakkan keagungan-Nya, apalagi manusia yang lemah.
Maka ketika Allah menampakkan cahaya keagungan-Nya kepada gunung tersebut, gunung yang besar dan kokoh itu hancur lebur menjadi rata dengan tanah. Melihat pemandangan yang sangat dahsyat itu, Nabi Musa jatuh pingsan karena tidak kuasa menanggung keagungan yang terlihat. Ketika beliau sadar kembali, dengan penuh ketundukan dan penyesalan, beliau berkata, *"Maha Suci Engkau, ya Rabb-ku. Aku bertobat kepada-Mu dari permintaanku yang tidak sepatutnya ini, dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman di antara kaumku bahwa Engkau tidak dapat dilihat di dunia ini."*
Hikmah dan Pelajaran:
Sungguh agung pelajaran dari kisah ini! Betapa besarnya kerinduan Nabi Musa kepada Allah, namun Allah mengajarkan bahwa melihat-Nya di dunia bukanlah hak seorang hamba. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan Nabi Muhammad ﷺ yang telah dianugerahi kesempatan melihat Allah di alam akhirat kelak sebagai kenikmatan terbesar bagi penghuni surga. Saudaraku, mari kita renungkan: jika gunung yang kokoh saja hancur saat Allah menampakkan keagungan-Nya, betapa lemahnya kita sebagai manusia. Maka sudah sepantasnya kita senantiasa merendahkan diri di hadapan Allah, memperbanyak istighfar dan taubat, serta meyakini bahwa Allah Maha Suci dari segala kekurangan. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa merindukan perjumpaan dengan Allah di surga-Nya yang kekal, dan semoga Allah memudahkan kita untuk beribadah dengan ikhlas hanya kepada-Nya. Aamiin.
📜 Ayat 141-145 — Al-A'raf
Terjemah — Al-A'raf 143
Surat Al-A'raf Ayat 143 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu…Surat Ayat 143/206 — Al-A'raf الأعراف (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-A'raf Dengarkan, Al-A'raf Terjemah, Al-A'raf mp3, Al-A'raf pdf. Ayat 141–145. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








