Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- خَائِفًا (khā'ifan): merasa takut
- يَتَرَقَّبُ (yataraqqabu): menunggu-nunggu dengan waspada, mengamati keadaan sekitar
- يَسْتَصْرِخُهُ (yastashrikhuhu): memanggilnya dengan suara keras meminta pertolongan
- لَغَوِيٌّ (laghawiyyun): benar-benar sesat, banyak melakukan kesalahan
- مُبِينٌ (mubīnun): nyata, jelas
Tafsir Ayat:
Setelah peristiwa pembunuhan seorang Qibti (orang Mesir) yang terjadi sehari sebelumnya, Musa 'alaihissalam memasuki pagi harinya di kota dengan perasaan takut yang menyelimuti hatinya. Beliau waspada dan menanti-nanti apa yang akan terjadi—apakah berita tentang peristiwa itu telah tersebar, dan apakah penguasa serta pengikut Fir'aun akan mencarinya untuk membalas dendam.
Di tengah ketegangan dan kecemasan itu, tiba-tiba Musa melihat orang yang kemarin meminta pertolongannya—yaitu seorang laki-laki dari Bani Israil yang sedang berkelahi dengan orang Qibti—kini datang lagi kepadanya sambil berteriak meminta bantuan untuk menghadapi orang Qibti yang lain. Orang itu kembali mengulangi perbuatannya yang sama, seakan-akan ia menjadikan Musa sebagai pelindungnya setiap kali terlibat pertikaian.
Maka Musa 'alaihissalam berkata kepadanya: "Sungguh, engkau ini benar-benar orang yang nyata kesesatannya dan jelas kebodohannya." Perkataan ini bukanlah bentuk kemarahan yang berlebihan, melainkan teguran yang tegas karena orang tersebut telah menyebabkan Musa terbebani dengan masalah yang besar—ia menjadi pemicu terbunuhnya seorang Qibti pada hari sebelumnya, dan kini ia kembali memicu pertikaian baru yang akan menambah rumit keadaan.
Renungan dan Pelajaran:
Ayat ini mengajarkan kita bahwa seorang mukmin hendaknya senantiasa waspada dan berhati-hati dalam setiap langkah, terutama ketika menghadapi situasi yang berisiko. Musa 'alaihissalam adalah seorang nabi yang kuat dan pemberani, namun beliau tetap merasa takut dan waspada—ini mengajarkan bahwa rasa takut yang wajar adalah bagian dari kewaspadaan, bukan tanda kelemahan iman.
Kita juga belajar bahwa setiap perbuatan memiliki akibat. Orang Bani Israil itu tidak belajar dari kejadian kemarin; ia mengulangi kesalahan yang sama, sehingga Musa menegurnya dengan keras. Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita: janganlah menjadi pribadi yang terus-menerus menimbulkan masalah dan membebani orang lain, tetapi jadilah pribadi yang membawa kebaikan dan ketenangan bagi sesama.
Saudaraku, kisah ini juga menunjukkan betapa beratnya ujian yang dihadapi para nabi dalam menegakkan kebenaran. Namun Allah senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang beriman. Ketika kita berada dalam kesulitan karena membela kebenaran, yakinlah bahwa pertolongan Allah akan datang, sebagaimana Allah kelak akan menyelamatkan Musa dari tipu daya Fir'aun dan membawanya keluar dari kota itu dengan perlindungan-Nya.
Semoga kita senantiasa diberikan keteguhan hati dalam kebenaran, kebijaksanaan dalam bertindak, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Aamiin.
📜 Ayat 16-20 — Al-Qasas
Terjemah — Al-Qasas 18
Surat Al-Qasas Ayat 18 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu…Surat Ayat 18/88 — Al-Qasas القصص (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Qasas Dengarkan, Al-Qasas Terjemah, Al-Qasas mp3, Al-Qasas pdf. Ayat 16–20. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








