Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Tazhāhirūn (تُظَاهِرُونَ): Berasal dari kata *zhihār*, yaitu perkataan seorang suami kepada istrinya, "Engkau bagiku seperti punggung ibuku." Ini adalah kebiasaan buruk masyarakat Jahiliyah yang dianggap sebagai talak.
- Ad'iyā' (أَدْعِيَاءَكُمْ): Anak angkat yang dinasabkan kepada orang tua angkatnya, padahal bukan anak kandungnya.
- Jauf (جَوْف): Rongga dada atau bagian dalam tubuh manusia.
Tafsir Ayat:
Wahai manusia, ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan dalam ayat ini beberapa perkara penting yang membatalkan kebiasaan-kebiasaan batil masyarakat Jahiliyah.
Pertama, Allah tidak menjadikan bagi seorang laki-laki dua hati dalam rongga dadanya. Ini adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik yang mengaku memiliki dua hati untuk menandingi kecerdasan Nabi Muhammad ﷺ. Manusia hanya memiliki satu hati, dan dengan hati itulah ia berpikir, memahami, dan mengambil keputusan.
Kedua, Allah tidak menjadikan istri-istri kalian yang kalian *zhihār* (yaitu berkata, "Engkau bagiku seperti punggung ibuku") sebagai ibu-ibu kalian yang haram dinikahi selamanya. *Zhihār* hanyalah perkataan dusta yang diucapkan lisan, tidak mengubah status istri menjadi ibu kandung. Namun, karena perkataan ini keji dan menyakiti istri, Allah mensyariatkan kafarat (tebusan) bagi pelakunya.
Ketiga, Allah tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak kandung kalian. Menasabkan anak angkat kepada orang tua angkat adalah kebiasaan Jahiliyah yang dihapuskan Islam. Anak angkat tetap memiliki nasab kepada ayah kandungnya, dan mereka bukan mahram bagi keluarga angkatnya. Peristiwa ini turun berkaitan dengan Zaid bin Haritsah yang diangkat sebagai anak oleh Nabi ﷺ sebelum kenabian, lalu Allah memerintahkan agar anak angkat dinasabkan kepada ayah kandungnya.
Semua perkara ini—*zhihār* dan *tabannī* (pengangkatan anak)—hanyalah ucapan di mulut kalian belaka, tanpa hakikat dan pengaruh syar'i. Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu mengatakan kebenaran dan menunjukkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba-Nya.
Hikmah dan Pelajaran:
Saudaraku kaum muslimin, ayat ini mengajarkan kita bahwa Allah Maha Mengetahui fitrah manusia dan tidak pernah memberatkan mereka dengan perkara-perkara yang bertentangan dengan tabiat. Islam datang untuk memuliakan manusia, bukan untuk mempersulit mereka.
Perhatikanlah keindahan syariat Islam: ia menghapuskan kebiasaan *zhihār* yang menyiksa kaum wanita, dan menggantinya dengan aturan yang adil serta kafarat yang membersihkan dosa. Ia juga mengatur hubungan kekeluargaan dengan jelas, sehingga tidak terjadi kekacauan nasab yang dapat menimbulkan masalah warisan, pernikahan, dan kemahraman.
Marilah kita renungkan: betapa sayangnya Allah kepada kita. Dia tidak membiarkan kita tersesat dalam kebiasaan-kebiasaan batil warisan Jahiliyah. Dia menjelaskan kebenaran dengan terang benderang, agar kita berjalan di atas jalan yang lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Jadikanlah ayat ini sebagai pengingat bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang jujur dan mengikuti kebenaran. Dan ketahuilah, bahwa hanya dengan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, hati kita akan tenang, keluarga kita akan harmonis, dan masyarakat kita akan damai. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berpegang teguh pada kebenaran dan dijauhkan dari segala kebatilan. Aamiin.
📜 Ayat 2-6 — Al-Ahzab
Terjemah — Al-Ahzab 4
Surat Ayat 4/73 — Al-Ahzab الأحزاب (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Ahzab Dengarkan, Al-Ahzab Terjemah, Al-Ahzab mp3, Al-Ahzab pdf. Ayat 2–6. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








