Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- ضِغْثًا (Dhightsan): Segenggam ranting atau dedaunan yang diikat menjadi satu. Dalam konteks ini, seikat batang kayu yang berjumlah seratus batang.
- فَاضْرِب بِّهِ (Fadhrib bihi): Pukullah dengannya (dengan seikat batang kayu tersebut).
- وَلَا تَحْنَثْ (Wa laa takhnats): Janganlah engkau melanggar sumpahmu. "Khanats" berarti melanggar atau tidak menepati sumpah.
- أَوَّابٌ (Awwaab): Orang yang kembali kepada Allah dengan penuh ketaatan, taubat, dan ketundukan.
Tafsir Ayat:
Wahai Nabi Muhammad, ceritakanlah kepada umatmu kisah hamba Kami yang sabar, Nabi Ayyub 'alaihissalam. Ketika ia sedang sakit dan istrinya yang setia melayaninya dengan penuh kasih sayang, suatu ketika sang istri melakukan hal yang membuat Nabi Ayyub marah karena kelalaian kecil di tengah kepayahan merawat suaminya. Dalam kemarahannya, ia bersumpah akan memukul istrinya seratus kali cambukan jika Allah menyembuhkannya dari sakitnya.
Maka ketika Allah Yang Maha Penyayang menyembuhkan Nabi Ayyub dan mengembalikan kesehatannya, Allah memberikan jalan keluar yang indah dan penuh rahmat. Allah berfirman: "Wahai Ayyub, ambillah dengan tanganmu seikat ranting yang berjumlah seratus batang, lalu pukulkan sekali saja kepadanya. Dengan demikian engkau telah menepati sumpahmu tanpa harus menyakiti istrimu yang shalihah itu." Ini adalah keringanan dan rahmat dari Allah, karena tujuan sumpah hanyalah untuk menunaikan janji, bukan untuk menyakiti. Maka Nabi Ayyub pun mengambil seikat batang kayu dan memukulkannya sekali saja, sehingga terpenuhilah sumpahnya dengan cara yang penuh kelembutan.
Sungguh, Kami mendapati Ayyub sebagai hamba yang sangat sabar. Ucapannya ketika sakit — "Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit" — bukanlah keluhan yang menunjukkan ketidaksabaran, melainkan curahan hati seorang hamba kepada Rabb-nya yang ia cintai. Sebaik-baik hamba adalah Ayyub, karena ia adalah orang yang senantiasa kembali kepada Allah, bertobat, dan tunduk dalam segala keadaan.
Pesan Dakwah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, kisah Nabi Ayyub ini mengajarkan kita betapa indahnya syariat Islam yang penuh kemudahan dan kasih sayang. Allah tidak ingin hamba-Nya terjerumus dalam kesulitan, bahkan dalam urusan sumpah sekalipun Allah memberikan jalan keluar yang bijaksana. Betapa sayangnya Allah kepada kita, hingga setiap perkara selalu ada solusi yang tidak menyakiti siapa pun.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kesabaran bukan berarti tidak boleh mengeluh kepada Allah. Justru mengadu kepada Allah adalah bentuk kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya. Nabi Ayyub tetap dipuji sebagai sebaik-baik hamba meskipun ia pernah mengeluh, karena keluhannya adalah doa dan pengharapan, bukan protes terhadap takdir.
Marilah kita jadikan Nabi Ayyub sebagai teladan dalam menghadapi ujian hidup. Setiap kesulitan pasti ada jalan keluar, setiap kesempitan pasti ada kemudahan. Yang penting adalah hati kita tetap terikat kepada Allah, selalu kembali kepada-Nya dalam suka maupun duka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya yang berserah diri.
📜 Ayat 42-46 — Sad
Terjemah — Sad 44
Surat Sad Ayat 44 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu…Surat Ayat 44/88 — Sad ص (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Sad Dengarkan, Sad Terjemah, Sad mp3, Sad pdf. Ayat 42–46. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








