Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- `عَبْدًا مَمْلُوكًا`: Hamba sahaya yang dimiliki sepenuhnya oleh tuannya, tidak memiliki kebebasan dan tidak mampu bertindak atas kehendaknya sendiri.
- `لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ`: Tidak mampu melakukan atau memiliki sesuatu apa pun.
- `رِزْقًا حَسَنًا`: Rezeki yang baik dan halal yang diberikan oleh Allah.
- `سِرًّا وَجَهْرًا`: Secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.
Tafsir Ayat:
Allah ﷻ mengemukakan sebuah perumpamaan yang sangat jelas untuk membantah keyakinan kaum musyrikin yang menyekutukan Allah dengan berhala-berhala mereka. Perumpamaan itu adalah tentang dua orang yang keadaannya sangat berbeda jauh:
Pertama, seorang hamba sahaya yang dimiliki sepenuhnya oleh tuannya. Ia tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, tidak memiliki harta, tidak mampu membelanjakan sesuatu, dan tidak dapat berbuat apa pun tanpa izin tuannya. Ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memberi atau menolak manfaat.
Kedua, seorang lelaki merdeka yang telah Allah berikan rezeki yang baik dan halal dari karunia-Nya. Ia memiliki kebebasan penuh untuk mengelola hartanya, dan ia pun menginfakkan hartanya itu dengan ikhlas, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, untuk kebaikan dirinya dan orang lain.
Maka apakah kedua orang ini setara? Tentu tidak! Tidak ada orang berakal sehat yang mengatakan bahwa keduanya sama. Demikian pula halnya dengan Allah ﷻ — Dialah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh alam semesta, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang memberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Sedangkan berhala-berhala yang mereka sembah itu hanyalah benda mati yang tidak memiliki apa pun dan tidak mampu berbuat apa pun. Maka bagaimana mungkin mereka menyamakan Allah Yang Maha Sempurna dengan berhala-berhala yang lemah dan tidak berdaya?!
Oleh karena itu, Allah ﷻ berfirman: "Segala puji bagi Allah" — yakni segala pujian dan sanjungan yang indah hanyalah milik Allah semata, karena Dialah yang berhak menerima pujian atas segala nikmat dan karunia-Nya. Tidak ada satu pun makhluk yang berhak dipuji sebagaimana Allah dipuji. Namun kebanyakan kaum musyrikin tidak mengetahui hakikat ini, sehingga mereka menyandarkan nikmat-nikmat Allah kepada selain-Nya dan menyembah selain-Nya.
Renungan dan Pelajaran:
Saudaraku yang dirahmati Allah, perumpamaan ini mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat dalam tentang keesaan Allah dan kebodohan syirik. Bagaimana mungkin akal yang sehat menerima penyamaan antara Allah Yang Maha Pencipta dengan berhala yang tidak mampu berbuat apa-apa? Sungguh, ini adalah kezaliman yang besar dan kebodohan yang nyata.
Marilah kita renungkan nikmat Allah yang begitu besar kepada kita. Kita diberikan kebebasan, akal, harta, dan kemampuan untuk beribadah kepada-Nya. Ini semua adalah karunia yang tiada tandingannya. Maka sudah sepantasnya kita gunakan nikmat-nikmat ini untuk bersyukur kepada Allah, berinfak di jalan kebaikan, dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
Allah ﷻ tidak membutuhkan ibadah kita, tetapi kitalah yang membutuhkan rahmat dan ampunan-Nya. Maka marilah kita jadikan hidup ini penuh dengan ketaatan, dan janganlah kita sia-siakan nikmat kebebasan dan harta yang Allah berikan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bersyukur.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur, yang mengenal hakikat keesaan-Nya, dan yang senantiasa berinfak di jalan-Nya dengan ikhlas, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Aamiin.
📜 Ayat 73-77 — An-Nahl
Terjemah — An-Nahl 75
Surat An-Nahl Ayat 75 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang…Surat Ayat 75/128 — An-Nahl النحل (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: An-Nahl Dengarkan, An-Nahl Terjemah, An-Nahl mp3, An-Nahl pdf. Ayat 73–77. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








