Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- أَبْكَمُ: Bisu, tidak dapat berbicara. Dalam konteks ini juga mencakup tuli dan tidak memahami, sehingga tidak mampu berkomunikasi dengan baik.
- كَلٌّ: Beban berat, tanggungan yang menyusahkan.
- مَوْلَاهُ: Orang yang mengurusinya, menanggung dan memelihara kehidupannya.
- أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ: Ke mana pun dia diarahkan atau disuruh pergi.
- لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ: Tidak pernah membawa kebaikan atau hasil yang bermanfaat.
- يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ: Menyuruh kepada keadilan dan kebenaran.
- صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ: Jalan yang lurus, jelas, dan tidak bengkok.
Tafsir Ayat:
Allah Subhanahu wa Ta'ala kembali memberikan perumpamaan yang sangat dalam dan penuh hikmah untuk menjelaskan kebatilan kesyirikan. Beliau mengumpamakan dua orang laki-laki yang keadaannya sangat bertolak belakang.
Orang yang pertama adalah seorang yang bisu, tuli, dan tidak memahami apa pun. Ia tidak mampu memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, apalagi kepada orang lain. Ia menjadi beban berat bagi orang yang menanggungnya. Ke mana pun ia diarahkan atau disuruh, ia tidak pernah membawa kebaikan atau hasil yang berguna. Ia seperti barang mati yang tidak berguna, hanya menyusahkan dan tidak bisa diharapkan.
Orang yang kedua adalah seorang yang sempurna akal dan fisiknya, mampu mendengar, berbicara, dan memahami. Ia bukan hanya baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Ia senantiasa menyuruh kepada keadilan dan kebenaran, dan ia sendiri berada di atas jalan yang lurus, jelas, dan tidak menyimpang.
Allah lalu bertanya dengan pertanyaan yang menggugah akal: "Apakah kedua orang ini sama?" Tentu saja tidak! Tidak ada seorang pun yang berakal sehat akan menyamakan keduanya.
Perumpamaan ini adalah cermin bagi orang-orang musyrik. Mereka menyembah berhala-berhala yang bisu, tuli, tidak mendengar, tidak melihat, tidak mampu memberi manfaat, dan tidak mampu menolak mudarat. Bahkan berhala-berhala itu justru menjadi beban bagi para penyembahnya—mereka harus mengangkatnya, membersihkannya, dan merawatnya. Sungguh suatu kebodohan yang nyata!
Lalu bagaimana mungkin mereka menyamakan berhala-berhala yang lemah dan tidak berdaya itu dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Yang Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Kaya, pemberi segala nikmat, dan Yang menyeru hamba-hamba-Nya kepada keadilan dan jalan yang lurus?!
Pesan Dakwah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, perumpamaan ini mengajak kita untuk merenung dengan akal yang sehat. Bagaimana mungkin kita meninggalkan Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang, lalu berpaling kepada sesuatu yang tidak mampu berbuat apa-apa? Allah yang menciptakan kita, memberi kita rezeki, mendengar doa kita, dan membalas amal kita. Dia-lah yang memerintahkan kita kepada keadilan dan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Maka marilah kita jadikan hidup ini penuh makna, dengan beribadah hanya kepada Allah, meneladani Rasul-Nya, dan menebarkan kebaikan kepada sesama. Janganlah kita menjadi seperti orang yang bisu dan tidak bermanfaat, melainkan jadilah hamba yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Sungguh, Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang berjalan di atas jalan yang lurus dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan.
📜 Ayat 74-78 — An-Nahl
Terjemah — An-Nahl 76
Surat An-Nahl Ayat 76 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang…Surat Ayat 76/128 — An-Nahl النحل (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: An-Nahl Dengarkan, An-Nahl Terjemah, An-Nahl mp3, An-Nahl pdf. Ayat 74–78. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








