Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata yang Perlu Dijelaskan:
- وَرِثَ (waritsa): Mewarisi, dalam konteks ini berarti mewarisi kenabian, ilmu, dan kerajaan.
- مَنطِقَ الطَّيْرِ (manthiqath-thair): Pembicaraan atau suara burung; maksudnya memahami dan mengerti maksud dari suara-suara burung tersebut.
- الْفَضْلُ الْمُبِينُ (al-fadh-lul-mubiin): Keutamaan atau karunia yang nyata dan jelas, yang membedakan seseorang dari yang lainnya.
Tafsir Ayat:
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang karunia-Nya yang agung kepada Nabi Sulaiman 'alaihissalam. Sulaiman mewarisi ayahnya, Nabi Daud 'alaihissalam, dalam tiga hal yang mulia: kenabian, ilmu, dan kerajaan. Ini adalah warisan yang paling berharga, bukan warisan harta benda yang fana, melainkan warisan risalah dan kekuasaan yang dengannya kemaslahatan umat terjaga.
Kemudian Nabi Sulaiman 'alaihissalam berbicara kepada kaumnya dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati, seraya menyampaikan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya dan kepada ayahnya. Beliau berkata: "Wahai manusia, kami telah diajarkan untuk memahami bahasa burung." Ini adalah mukjizat yang sangat menakjubkan—Allah memberikan pemahaman kepada Sulaiman tentang suara-suara burung, seakan-akan burung-burung itu berbicara dengan bahasa yang dapat ia pahami. Ini menunjukkan keluasan ilmu Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki.
Dan beliau juga berkata: "Dan kami telah diberikan segala sesuatu." Yakni, Allah telah menganugerahkan kepada kami berbagai macam kenikmatan yang diberikan kepada para nabi dan raja-raja, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Ini mencakup kekuasaan yang luas, ilmu yang mendalam, mukjizat yang nyata, dan berbagai keistimewaan lainnya.
Di akhir ayat, Nabi Sulaiman menegaskan: "Sesungguhnya ini benar-benar karunia yang nyata." Beliau mengakui dengan penuh keyakinan bahwa semua yang ia terima adalah murni karunia dan keutamaan dari Allah, bukan karena kehebatan atau usaha dirinya semata. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita: ketika Allah memberikan nikmat, seorang hamba yang bijak akan mengakui keutamaan Allah dan bersyukur kepada-Nya, bukan malah sombong dan membanggakan diri.
Pesan Dakwah:
Saudaraku sekalian, kisah Nabi Sulaiman ini mengajarkan kita tentang adab seorang hamba ketika menerima nikmat dari Allah. Beliau tidak berkata "aku hebat" atau "aku berhasil karena kemampuanku", melainkan beliau mengucapkan: "Ini adalah karunia yang nyata dari Allah." Inilah kunci keberkahan—ketika kita mengakui bahwa segala yang kita miliki adalah pemberian Allah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya dan menjaga kita dari kesombongan.
Renungkanlah, jika Nabi Sulaiman yang memiliki kerajaan yang tidak diberikan kepada siapa pun setelahnya, tetap bersikap rendah hati dan bersyukur, maka sudah sepantasnya kita yang memiliki sedikit ini juga senantiasa bersyukur. Islam mengajarkan kita untuk selalu berterima kasih kepada Allah atas setiap nikmat, sekecil apa pun. Dengan bersyukur, hati menjadi tenang, rezeki menjadi bertambah, dan kita semakin dekat dengan Allah.
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur dan tidak pernah lupa bahwa setiap kebaikan yang kita miliki berasal dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Aamiin.
📜 Ayat 14-18 — An-Naml
Terjemah — An-Naml 16
Surat An-Naml Ayat 16 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia,…Surat Ayat 16/93 — An-Naml النمل (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: An-Naml Dengarkan, An-Naml Terjemah, An-Naml mp3, An-Naml pdf. Ayat 14–18. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








