Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- أَهَٰكَذَا عَرْشُكِ – "Apakah begini singgasanamu?" Yakni, apakah singgasana yang ada di hadapanmu ini serupa dengan singgasanamu yang kau tinggalkan di negerimu?
- كَأَنَّهُ هُوَ – "Seolah-olah ia adalah singgasana itu." Ini adalah jawaban yang cerdas dari Ratu Balqis, karena ia tidak menegaskan sepenuhnya, tetapi juga tidak mengingkarinya.
- وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهَا – "Dan kami telah diberikan ilmu sebelum kedatangannya." Yakni, ilmu tentang kekuasaan Allah dan kebenaran kenabian Sulaiman.
- وَكُنَّا مُسْلِمِينَ – "Dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslim)." Yakni, tunduk dan patuh kepada perintah Allah.
Tafsir Ayat:
Ketika Ratu Balqis akhirnya tiba di istana Nabi Sulaiman `alaihissalam`, beliau ingin menguji kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Maka ditanyakanlah kepadanya: "Apakah begini singgasanamu?" — sementara singgasana aslinya telah dipindahkan oleh Sulaiman dengan izin Allah dalam sekejap mata. Ratu Balqis pun menjawab dengan sangat cerdas dan hati-hati: "Seolah-olah ia adalah singgasana itu." Ia tidak mengiyakan secara mutlak, karena takut salah, dan tidak pula mengingkarinya, karena memang itulah singgasananya. Jawaban ini menunjukkan kematangan akal dan kebijaksanaannya.
Melihat kecerdasan dan ketepatan jawabannya, Nabi Sulaiman `alaihissalam` berkata: "Dan kami telah diberikan ilmu sebelum kedatangannya, dan kami adalah orang-orang yang berserah diri." Maksudnya: Kami telah mengetahui kekuasaan Allah yang Maha Besar dan kebenaran agama-Nya jauh sebelum engkau datang, wahai Balqis. Kami telah lama beriman dan tunduk kepada Allah, tidak seperti kaummu yang menyembah matahari. Ilmu dan keimanan itu adalah anugerah terbesar yang Allah berikan kepada kami, dan dengannya kami mengenal bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi Allah.
Sentuhan Dakwah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, perhatikanlah bagaimana kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa ilmu dan keimanan adalah dua hal yang saling melengkapi. Ratu Balqis memiliki kecerdasan duniawi yang luar biasa, namun ia belum memiliki ilmu keimanan yang sejati. Setelah menyaksikan kebesaran Allah melalui mukjizat Nabi Sulaiman, ia pun akhirnya beriman dan berserah diri.
Adapun Nabi Sulaiman `alaihissalam`, beliau menunjukkan bahwa orang yang beriman kepada Allah tidak akan merasa takjub berlebihan terhadap kekuasaan duniawi, karena ia yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Keyakinan ini melahirkan ketenangan, kebijaksanaan, dan ketundukan yang sempurna kepada Allah.
Marilah kita jadikan kisah ini sebagai pelajaran berharga: bahwa kecerdasan tanpa iman akan tersesat, dan iman tanpa ilmu akan lemah. Maka dari itu, mari kita senantiasa menuntut ilmu, memperdalam pemahaman agama, dan menghiasi hati kita dengan ketundukan kepada Allah. Dengan begitu, kita akan menjadi hamba-hamba yang cerdas di mata Allah, sebagaimana Sulaiman `alaihissalam` yang memadukan antara kekuasaan, ilmu, dan keimanan dalam satu pribadi yang mulia. Semoga Allah membimbing kita semua ke jalan yang lurus dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berserah diri. Aamiin.
📜 Ayat 40-44 — An-Naml
Terjemah — An-Naml 42
Surat An-Naml Ayat 42 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgasanamu?" Dia…Surat Ayat 42/93 — An-Naml النمل (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: An-Naml Dengarkan, An-Naml Terjemah, An-Naml mp3, An-Naml pdf. Ayat 40–44. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








