Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- Unkihaka: Aku menikahkanmu atau mengawinkanmu.
- Ta'jurani: Engkau menjadi pekerja/pembantuku, yaitu menggembalakan ternak.
- Hijaj: Jamak dari *hijjah*, artinya tahun.
- Asyudda 'alaika: Memberatkanmu atau menyulitkanmu.
Tafsir:
Sungguh indah dan penuh hikmah pertemuan antara Nabi Musa 'alaihissalam dengan keluarga saleh di negeri Madyan. Setelah Nabi Musa membantu kedua wanita itu memberi minum ternak mereka, sang ayah yang dikenal sebagai seorang yang saleh dan terhormat—menurut sebagian ulama ia adalah Nabi Syu'aib 'alaihissalam—memanggil Musa dan berkata kepadanya dengan penuh kelembutan dan kepercayaan: "Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu dari kedua putriku ini, dengan mahar berupa jasamu bekerja untukku menggembalakan ternak selama delapan tahun penuh. Jika engkau sempurnakan menjadi sepuluh tahun, maka itu adalah kebaikan dan kemurahan hatimu sendiri, bukan kewajiban bagimu. Dan aku tidak ingin memberatkanmu dengan mewajibkan sepuluh tahun itu. Engkau akan mendapatiku—insya Allah—termasuk orang-orang yang saleh, yang menepati janji dan memperlakukan orang lain dengan baik."
Ayat ini mengajarkan kita beberapa pelajaran berharga:
- Keutamaan bekerja dan kemandirian — Nabi Musa tidak malu menerima tawaran bekerja sebagai penggembala sebagai mahar pernikahan. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan halal apa pun adalah mulia di sisi Allah, dan bahwa seorang muslim sejati tidak gengsi untuk bekerja keras mencari rezeki yang berkah.
- Kesederhanaan dan keikhlasan dalam pernikahan — Mahar tidak harus berupa harta yang banyak; bisa berupa jasa atau manfaat yang halal. Ini memudahkan jalan pernikahan bagi kaum muda dan menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ yang menganjurkan mempermudah mahar.
- Akhlak mulia dalam bermuamalah — Sang ayah dengan tegas menyatakan tidak ingin menyulitkan Musa, bahkan memberi kelonggaran dan pilihan. Ia juga berjanji akan menjadi orang yang saleh dalam pergaulan, menepati janji, dan tidak menyalahi kesepakatan. Inilah akhlak Islami yang seharusnya mewarnai setiap hubungan kita, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat.
- Tawakal kepada Allah — Ungkapan "insya Allah" mengajarkan kita untuk selalu menyandarkan segala rencana dan janji kepada kehendak Allah, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Saudaraku yang dirahmati Allah, lihatlah bagaimana ketakwaan dan kesabaran Nabi Musa membuahkan kebaikan yang melimpah. Ia yang keluar dari Mesir dalam keadaan takut dan sendirian, akhirnya Allah karuniakan keluarga yang saleh, pekerjaan yang halal, dan ketenangan hati. Ini adalah bukti nyata firman Allah: *"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."* (QS. At-Talaq: 2-3).
Maka jadilah pribadi yang jujur, menepati janji, dan tidak menyulitkan orang lain. Karena sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesama dan paling baik akhlaknya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh dan istiqamah di atas jalan kebaikan. Aamiin.
📜 Ayat 25-29 — Al-Qasas
Terjemah — Al-Qasas 27
Surat Al-Qasas Ayat 27 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah…Surat Ayat 27/88 — Al-Qasas القصص (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Qasas Dengarkan, Al-Qasas Terjemah, Al-Qasas mp3, Al-Qasas pdf. Ayat 25–29. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








