Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Nafqahu: Kami tidak memahami/mengerti.
- Dha'ifan: Lemah, tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan.
- Rahthuka: Keluarga dan kerabat dekatmu (kaummu).
- Rajamnaaka: Kami membunuhmu dengan melemparimu batu hingga mati.
- Bi'azizin: Orang yang memiliki kehormatan dan kekuatan yang membuat kami segan.
Tafsir Ayat:
Inilah jawaban kaum Nabi Syu'aib yang penuh dengan kesombongan dan keangkuhan. Mereka berkata dengan nada merendahkan, "Wahai Syu'aib, kami tidak memahami banyak dari apa yang engkau sampaikan." Ini adalah bentuk penghinaan mereka terhadap dakwah Nabi Syu'aib. Mereka mengaku tidak mengerti ajarannya, padahal sebenarnya mereka enggan memahami karena hati mereka telah tertutup oleh kesombongan dan kecintaan berlebihan kepada kemewahan dunia.
Mereka melanjutkan dengan ucapan yang lebih menyakitkan, "Dan sesungguhnya kami melihat engkau dalam keadaan lemah di tengah-tengah kami." Mereka menganggap Nabi Syu'aib tidak memiliki kedudukan, kekuatan, atau pengaruh di antara mereka. Bahkan sebagian riwayat menyebutkan bahwa Nabi Syu'aib menderita sakit pada penglihatannya, yang semakin membuat mereka merendahkannya.
Kemudian mereka mengancam, "Kalau bukan karena keluargamu (kerabatmu), niscaya kami telah merajammu (membunuhmu dengan lemparan batu)." Ini menunjukkan betapa mereka hanya segan kepada keluarga dan kerabat Nabi Syu'aib yang masih berada dalam agama mereka, bukan karena menghormati beliau. Mereka mengakui bahwa jika bukan karena faktor keluarga itu, mereka sudah membunuhnya dengan cara yang sangat kejam.
Akhirnya mereka menegaskan, "Dan engkau bukanlah seorang yang berkuasa di hadapan kami." Maksudnya, engkau tidak memiliki kehormatan dan kekuatan yang membuat kami takut atau segan kepadamu. Mereka benar-benar telah menutup mata dari kebenaran dan hanya mengandalkan kekuatan serta status sosial.
Renungan dan Pelajaran:
Sungguh berat ujian yang dihadapi para nabi dalam menyampaikan risalah Allah. Namun mereka tetap sabar dan istiqamah, tidak gentar menghadapi ejekan, ancaman, bahkan hinaan. Inilah teladan bagi kita: ketika berdakwah kepada kebaikan, jangan pernah takut dengan cemoohan manusia. Kebenaran akan tetap bersinar walaupun banyak yang membencinya.
Perhatikanlah bagaimana kaum Syu'aib menggantungkan penilaian mereka kepada hal-hal lahiriah: kekuatan fisik, kedudukan sosial, dan pengaruh keluarga. Mereka lupa bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dengan harta atau jabatan, melainkan dengan ketakwaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: *"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa"* (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini juga mengajarkan kita untuk tidak merendahkan orang lain hanya karena keadaan fisik atau sosialnya. Bisa jadi orang yang kita anggap lemah dan hina justru memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Sebagaimana Nabi Syu'aib yang dianggap lemah oleh kaumnya, namun beliau adalah nabi pilihan yang mulia.
Marilah kita jadikan kisah ini sebagai pelajaran berharga: jangan pernah mengukur kebenaran dengan kekuatan mayoritas, dan jangan pernah meremehkan seorang hamba Allah karena penampilan lahiriahnya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah, dan Dia akan menolong hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya dengan kesabaran dan ketakwaan.
📜 Ayat 89-93 — Hud
Terjemah — Hud 91
Surat Hud Ayat 91 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa…Surat Ayat 91/123 — Hud هود (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Hud Dengarkan, Hud Terjemah, Hud mp3, Hud pdf. Ayat 89–93. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








