Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Yaṣuddūna: Mereka menghalang-halangi.
- Al-Masjidil Haram: Masjid yang suci di Mekah, tempat beribadah dan bertawaf.
- Auliyā'uhu: Para wali (kekasih) Allah yang berhak mengurus dan memakmurkan masjid tersebut.
- Al-Muttaqūn: Orang-orang yang bertakwa, yaitu yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Tafsir Ayat:
Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, renungkanlah betapa tegasnya peringatan Allah dalam ayat ini. Allah bertanya dengan nada mencela, "Mengapa mereka tidak pantas mendapat azab dari Allah?" Pertanyaan ini menunjukkan bahwa azab itu sudah sangat layak menimpa mereka, karena perbuatan mereka sungguh keji. Mereka dengan angkuhnya menghalang-halangi kaum mukminin yang beriman untuk memasuki Masjidil Haram, tempat yang suci itu, untuk bertawaf dan melaksanakan shalat. Padahal, masjid itu adalah rumah Allah yang seharusnya terbuka bagi siapa saja yang beribadah kepada-Nya, bukan untuk dihalangi oleh tangan-tangan zalim.
Mereka juga mengaku-ngaku sebagai wali atau pengurus sah Masjidil Haram. Namun, Allah dengan tegas membantah pengakuan palsu ini. Allah berfirman bahwa mereka sama sekali bukanlah wali (kekasih) Allah yang berhak atas masjid itu. Wali-wali Allah yang sejati hanyalah orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang benar-benar mengimani Allah, menjalankan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Merekalah yang berhak memakmurkan masjid-masjid Allah, bukan mereka yang menyekutukan-Nya dan menghalangi manusia dari jalan-Nya.
Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui hakikat ini. Hati mereka telah tertutup oleh kesombongan dan keangkuhan, sehingga mereka mengira bahwa kedudukan dan kekuasaan mereka atas Baitullah adalah suatu kehormatan yang membuat mereka selamat dari azab. Mereka tidak menyadari bahwa perbuatan mereka justru mengundang murka Allah.
Pesan dan Hikmah:
Saudaraku, ayat ini mengajarkan kita sebuah prinsip agung: kemuliaan dan kedudukan di sisi Allah tidak diukur dengan kekuasaan, harta, atau garis keturunan semata. Ukurannya hanyalah ketakwaan. Sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa" (QS. Al-Hujurat: 13). Maka, janganlah kita tertipu oleh gemerlap dunia atau merasa aman dari azab Allah karena status sosial atau pengakuan manusia. Jadikanlah ketakwaan sebagai perisai kita, dengan memperbanyak ibadah, menjaga lisan, dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Sungguh, orang yang bertakwa akan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Mari kita jadikan ayat ini sebagai pengingat untuk selalu merendahkan hati, menjauhi kezaliman, dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan dicintai-Nya. Aamiin.
📜 Ayat 32-36 — Al-Anfal
Terjemah — Al-Anfal 34
Surat Al-Anfal Ayat 34 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk…Surat Ayat 34/75 — Al-Anfal الأنفال (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Anfal Dengarkan, Al-Anfal Terjemah, Al-Anfal mp3, Al-Anfal pdf. Ayat 32–36. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








