Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Sulit:
- Ilāhukum (إِلَهُكُمْ): Tuhan yang disembah.
- Wāḥid (وَاحِدٌ): Esa, tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya.
- Munkirah (مُنكِرَةٌ): Mengingkari, menolak, dan tidak mau menerima kebenaran.
- Mustakbirūn (مُسْتَكْبِرُونَ): Orang-orang yang sombong, angkuh, dan enggan tunduk kepada kebenaran.
Tafsir Ayat:
Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhan yang berhak kalian sembah hanyalah Allah semata. Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyamai-Nya, dan tidak ada tandingan bagi-Nya. Seluruh alam semesta ini tunduk di bawah kekuasaan-Nya, dan hanya Dia-lah yang layak menerima ibadah, doa, dan penghambaan diri.
Namun, orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat—yakni hari kebangkitan dan pembalasan—hati mereka mengingkari keesaan Allah. Mengapa demikian? Karena mereka tidak merasa takut akan azab dan siksa-Nya. Mereka tidak percaya bahwa ada hari perhitungan di mana segala amal akan dibalas, sehingga mereka dengan mudahnya mengingkari kebenaran tauhid dan berpaling dari seruan untuk beribadah hanya kepada Allah.
Di samping itu, mereka adalah orang-orang yang sombong dan angkuh. Kesombongan inilah yang menghalangi mereka untuk tunduk kepada kebenaran, menerima petunjuk, dan merendahkan diri di hadapan Allah. Mereka merasa besar dan tinggi hati, sehingga enggan mengakui bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah.
Renungan dan Nasihat:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat berharga. Bahwa keimanan kepada hari akhirat bukanlah sekadar urusan akhirat semata, tetapi ia sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita di dunia. Orang yang benar-benar yakin akan adanya hari pembalasan, maka ia akan senantiasa menjaga hatinya, meluruskan niatnya, dan istiqamah di atas kebenaran. Sebaliknya, orang yang mengingkari hari akhirat, hatinya menjadi keras, mudah menolak kebenaran, dan diliputi oleh kesombongan.
Marilah kita renungkan: betapa indahnya hidup ini jika hati kita dipenuhi keimanan kepada Allah Yang Maha Esa. Kita tidak perlu takut kepada siapa pun selain Allah. Kita tidak perlu tunduk kepada hawa nafsu atau tipu daya dunia. Cukuplah Allah sebagai Tuhan, dan cukup pula Allah sebagai sandaran.
Janganlah kita menjadi seperti mereka yang sombong dan enggan menerima kebenaran. Karena kesombongan adalah penghalang terbesar menuju surga. Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa merendahkan hati, menerima kebenaran dengan lapang dada, dan mengikhlaskan seluruh ibadah kita hanya untuk Allah semata. Sungguh, Allah Yang Maha Esa itu dekat, Maha Mendengar, dan Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang tulus. Tiada kebahagiaan yang hakiki kecuali dengan mengenal-Nya, dan tiada ketenangan yang sejati kecuali dengan beribadah kepada-Nya.
📜 Ayat 20-24 — An-Nahl
Terjemah — An-Nahl 22
Surat An-Nahl Ayat 22 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang…Surat Ayat 22/128 — An-Nahl النحل (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: An-Nahl Dengarkan, An-Nahl Terjemah, An-Nahl mp3, An-Nahl pdf. Ayat 20–24. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








