Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Zukhruf: Emas atau perhiasan yang indah.
- Tarqā: Naik atau mendaki.
- Raqiyyika: Kenaikanmu (penerimaanmu terhadap kenaikan itu).
- Subḥāna Rabbī: Maha Suci Tuhanku (pernyataan pensucian Allah dari segala kekurangan, sekaligus ungkapan keheranan).
Tafsir Ayat:
Dalam ayat ini, Allah ﷻ mengabadikan tantangan-tantangan kaum musyrik Quraisy yang terus-menerus mencari-cari alasan untuk tidak beriman kepada Rasulullah ﷺ. Mereka berkata, "Atau engkau memiliki sebuah rumah yang terbuat dari emas murni yang berkilauan, atau engkau naik ke langit dengan tangga yang nyata. Dan kami tidak akan pernah mempercayai kenaikanmu itu, meskipun engkau benar-benar naik, kecuali engkau turun kembali kepada kami membawa sebuah kitab yang tertulis dari Allah yang dapat kami baca langsung dengan mata kepala kami sendiri, yang di dalamnya tertulis bahwa engkau adalah utusan Allah yang sebenarnya."
Ini adalah puncak dari sikap keras kepala dan pembangkangan mereka. Mereka menuntut hal-hal yang mustahil dilakukan oleh seorang manusia biasa, padahal mereka tahu bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia yang jujur dan amanah. Mereka tidak mencari kebenaran, tetapi hanya mencari alasan untuk berpaling.
Maka Allah ﷻ memerintahkan Rasul-Nya untuk menjawab dengan penuh keheranan dan pensucian terhadap Allah: "Subḥāna Rabbī!" — Maha Suci Tuhanku! Sungguh mustahil dan tidak layak bagi Allah untuk diperintah atau dikendalikan oleh keinginan hamba-hamba-Nya. Allah melakukan apa yang Dia kehendaki, dan Dia mengutus rasul-rasul-Nya dengan mukjizat yang Dia pilih, bukan yang diminta oleh orang-orang yang membangkang.
Kemudian beliau ﷺ berkata: "Apakah aku ini hanyalah seorang manusia biasa yang diutus sebagai rasul?" Artinya: Aku tidak memiliki kekuasaan untuk mendatangkan semua yang kalian minta. Aku hanyalah seorang hamba yang diberi wahyu dan ditugaskan menyampaikan risalah. Mukjizat yang aku bawa adalah atas izin Allah, bukan atas kehendakku sendiri. Kalau Allah menghendaki, Dia akan menurunkannya; dan jika tidak, maka tidak ada seorang pun yang bisa memaksakan kehendaknya kepada Allah.
Renungan dan Pelajaran:
Ayat ini mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat dalam: bahwa keimanan tidak boleh digantungkan pada hal-hal yang bersifat indrawi semata atau mukjizat-mukjizat yang diminta-minta. Allah ﷻ telah memberikan kepada kita akal, fitrah, dan kitab suci Al-Qur'an sebagai bukti yang paling agung dan abadi. Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar yang tidak pernah lekang oleh zaman, yang menantang seluruh manusia dan jin untuk membuat yang semisalnya, namun mereka tidak akan mampu.
Saudaraku, betapa banyak orang yang meminta bukti-bukti tambahan padahal bukti yang ada sudah begitu jelas dan sempurna. Allah ﷻ tidak membutuhkan bukti untuk membuktikan diri-Nya, tetapi justru kita yang membutuhkan petunjuk-Nya. Maka marilah kita renungkan keagungan Al-Qur'an, tadabburi ayat-ayatnya, dan buka hati kita untuk menerima kebenaran. Karena kebahagiaan sejati bukan terletak pada melihat hal-hal ajaib, melainkan pada ketundukan hati kepada Allah dan mengikuti jejak Rasul-Nya ﷺ.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang beriman dengan benar, yang mencintai Rasul-Nya dan mengikuti sunnahnya dengan ikhlas, serta dijauhkan dari sikap keras kepala dan membangkang yang menjadi ciri orang-orang yang merugi. Aamiin.
📜 Ayat 91-95 — Al-Isra
Terjemah — Al-Isra 93
Surat Al-Isra Ayat 93 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik…Surat Ayat 93/111 — Al-Isra الإسراء (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Isra Dengarkan, Al-Isra Terjemah, Al-Isra mp3, Al-Isra pdf. Ayat 91–95. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








