Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- Ḍaraba lakum maṡalan: Allah membuatkan sebuah perumpamaan bagi kalian.
- Mā malakat aymānukum: hamba sahaya kalian, baik budak laki-laki maupun perempuan.
- Sawā'un: sama dan setara dalam bagian harta.
- Takhāfūnahum: kalian merasa takut dan khawatir terhadap mereka.
- Kakhīfatikum anfusakum: sebagaimana rasa takut kalian terhadap orang-orang merdeka yang menjadi sekutu kalian.
Tafsir Ayat:
Wahai kaum musyrikin, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajukan sebuah perumpamaan yang sangat dekat dengan kehidupan kalian sendiri, agar mudah dipahami oleh akal yang sehat. Allah berfirman: "Apakah di antara hamba sahaya yang kalian miliki ada yang bersedia kalian jadikan sekutu dalam harta yang telah Kami berikan kepada kalian, sehingga mereka memiliki hak yang sama dengan kalian, dan kalian pun merasa khawatir terhadap mereka sebagaimana kalian merasa khawatir terhadap sekutu-sekutu kalian yang merdeka?"
Tentu saja kalian tidak akan pernah rela dan tidak akan menerima hal itu. Seorang tuan tidak akan sudi hamba sahayanya menjadi sekutu yang setara dalam harta dan kekuasaannya. Lalu bagaimana mungkin kalian rela menjadikan sebagian dari makhluk Allah sebagai sekutu bagi Allah dalam ibadah dan ketuhanan-Nya, padahal kalian sendiri tidak meridhai hal itu untuk diri kalian? Maha Suci Allah dari segala sesuatu yang mereka persekutukan.
Dengan cara inilah Allah menjelaskan ayat-ayat dan bukti-bukti kebenaran-Nya dengan berbagai macam perumpamaan, agar orang-orang yang berakal dapat merenungkan dan mengambil pelajaran. Hanya orang-orang yang menggunakan akal sehatnya sajalah yang mampu memahami hikmah di balik perumpamaan-perumpamaan ini dan berhenti dari kesyirikan.
Renungan dan Pesan Dakwah:
Saudaraku kaum muslimin, perhatikanlah betapa agungnya cara Al-Qur'an dalam membungkam argumen orang-orang musyrik. Allah tidak langsung menghardik mereka, tetapi mengajak mereka berpikir dengan sesuatu yang paling mereka pahami: perasaan kepemilikan dan keengganan untuk berbagi kekuasaan dengan hamba sahaya. Jika mereka sendiri tidak rela hal itu terjadi pada diri mereka, maka bagaimana mungkin mereka mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya yang lemah dan hina?
Ayat ini mengajarkan kita tentang kemurnian tauhid. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan, penciptaan, maupun ibadah. Ketika kita mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, maka hidup kita akan terasa lapang dan tenang, karena kita tidak menggantungkan diri kepada siapa pun selain Dia. Sebaliknya, kesyirikan adalah kezaliman yang paling besar, karena ia menempatkan sesuatu pada posisi yang bukan haknya.
Marilah kita renungkan: jika seorang manusia saja tidak rela hartanya dibagi dengan budaknya, maka bagaimana mungkin Allah yang Maha Pemilik segala sesuatu rela dijadikan sekutu oleh makhluk-Nya yang tidak memiliki apa-apa? Sungguh, akal yang sehat pasti akan menolak kesyirikan dan menerima kemurnian tauhid dengan lapang dada. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berakal dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya. Aamiin.
📜 Ayat 26-30 — Ar-Rum
Terjemah — Ar-Rum 28
Surat Ar-Rum Ayat 28 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada…Surat Ayat 28/60 — Ar-Rum الروم (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Ar-Rum Dengarkan, Ar-Rum Terjemah, Ar-Rum mp3, Ar-Rum pdf. Ayat 26–30. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








