Istakbaaran fil ardi wa makras sayyi`; wa laa yaheequl makrus sayyi`u illaa bi ahlih; fahal yanzuroona illaa sunnatal awwaleen; falan tajida lisunnatil laahi tabdeelanw wa lan tajida lisunnatil laahi tahweela
📖 Terjemah (Arti Bahasa Indonesia)
📖 Arti Bahasa Indonesia
karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.
🌐 Additional reference in Melayu
🌐 Melayu
Sambil bersikap sombong takbur di muka bumi dan berusaha merancangkan rancangan-rancangan jahat (terhadap Rasul itu), sedang rancangan yang jahat itu tidak menimpa melainkan orang yang menjalankannya. (Dengan keadaan yang demikian, maka) tidak ada yang mereka tunggu selain daripada berlakunya kebinasaan menimpa mereka (sebagaimana yang telah menimpa) orang-orang kafir yang telah lalu. Kerana engkau tidak sekali-kali akan mendapati sebarang perubahan bagi " Sunnatullah " (undang-undang peraturan Allah), dan engkau tidak sekali-kali akan mendapati sebarang penukaran bagi perjalanan " Sunnatullah " itu.
karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.
📜
Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
اسْتِكْبَارًا: sikap sombong dan angkuh.
مَكْرَ السَّيِّئِ: tipu daya yang buruk lagi keji.
لَا يَحِيقُ: tidak akan meliputi atau menimpa.
سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ: ketetapan Allah berupa azab yang menimpa umat-umat terdahulu yang ingkar.
تَبْدِيلًا: mengubah atau mengganti ketetapan tersebut.
تَحْوِيلًا: memindahkan azab dari yang berhak kepada yang lain.
Tafsir:
Sungguh, sumpah mereka dengan nama Allah bukanlah didorong oleh niat yang tulus dan keinginan untuk mencari kebenaran. Akan tetapi, yang mendorong mereka hanyalah sikap sombong dan angkuh di muka bumi, serta keinginan untuk menipu dan membuat makar yang buruk terhadap kebenaran dan para pengikutnya. Namun, ketahuilah—wahai saudaraku—bahwa tipu daya yang buruk itu tidak akan menimpa kecuali pelakunya sendiri. Ia bagaikan bumerang yang kembali menghancurkan tuannya. Maka, apakah mereka yang sombong dan suka berbuat makar ini hanya menunggu ketetapan Allah yang telah berlaku pada umat-umat terdahulu? Yaitu azab yang membinasakan mereka, sebagaimana Allah telah membinasakan orang-orang kafir sebelum mereka. Dan engkau tidak akan pernah mendapati ketetapan Allah itu berubah atau berganti. Tidak ada seorang pun yang mampu mengubahnya, dan tidak ada pula yang mampu memindahkannya kepada selain yang berhak menerimanya. Karena ketetapan Allah adalah pasti dan tidak mungkin terlaksana kecuali sesuai dengan kehendak-Nya yang Maha Bijaksana.
Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, renungkanlah ayat ini dengan hati yang jernih. Betapa banyak kaum yang sombong dan suka menipu, namun akhirnya mereka sendiri yang binasa oleh tipu daya mereka. Allah Maha Mengetahui segala apa yang tersembunyi di dalam hati, dan tidak ada satu pun makar yang luput dari pengetahuan-Nya. Maka, janganlah sekali-kali kita merasa aman dari tipu daya Allah, dan janganlah kita tertipu oleh kehidupan dunia yang sementara ini. Marilah kita senantiasa merendahkan hati di hadapan Allah, menjauhi kesombongan, dan berpegang teguh pada kebenaran. Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang tawaduk dan membenci setiap orang yang sombong lagi angkuh. Semoga kita semua termasuk golongan yang selamat dari azab-Nya dan mendapatkan rahmat serta ampunan-Nya di dunia dan di akhirat. Aamiin.
Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran),
karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.
Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
Surat Fatir Ayat 43 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka)…
Surat Ayat 43/45 — Fatir فاطر (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Fatir Dengarkan, Fatir Terjemah, Fatir mp3, Fatir pdf. Ayat 41–45. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Situs SurahQuran didirikan sebagai upaya sederhana untuk melayani Kitab Suci dan Sunnah yang mulia, serta berdakwah kepada Allah dan memudahkan ilmu syariat sesuai manhaj Al-Quran dan Sunnah. Kami memuji dan bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, dan memohon agar Dia menerima amal kami dan menjadikannya ikhlas karena wajah-Nya yang mulia.