Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- فَلَا وَرَبِّكَ — Demi Tuhanmu (sumpah yang sangat agung dari Allah).
- يُحَكِّمُوكَ — Menjadikanmu (Nabi Muhammad ﷺ) sebagai hakim/pemutus perkara.
- شَجَرَ — Perselisihan atau pertengkaran.
- حَرَجًا — Rasa sempit di dada, keberatan, atau keraguan.
- قَضَيْتَ — Keputusan yang engkau tetapkan.
- يُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا — Menerima dengan penuh kepatuhan dan ketundukan yang sempurna.
Tafsir Ayat:
Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengan diri-Nya yang Maha Mulia — dan sungguh, sumpah Allah adalah sumpah yang paling agung dan benar — bahwa orang-orang yang mengaku beriman itu tidak akan mencapai hakikat iman yang sejati, selama mereka belum menjadikan engkau wahai Nabi Muhammad ﷺ sebagai hakim dalam setiap perselisihan yang terjadi di antara mereka. Ini berlaku baik semasa hidupmu, dengan merujuk langsung kepadamu, maupun setelah wafatmu, dengan merujuk kepada sunnah dan syariat yang engkau bawa.
Namun, sekadar menjadikanmu hakim saja tidak cukup. Setelah keputusan itu engkau tetapkan, hati mereka tidak boleh merasa sempit, berat, atau ragu sedikit pun terhadap putusan tersebut. Mereka harus menerimanya dengan lapang dada, tanpa ada rasa keberatan yang tersembunyi. Kemudian mereka harus tunduk dan patuh sepenuhnya — dengan lahir dan batin, dengan ucapan dan perbuatan — sebagai bentuk kepasrahan total kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ayat ini menegaskan bahwa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan pembenaran di hati yang diwujudkan dalam ketaatan mutlak kepada syariat, terutama ketika terjadi perselisihan. Barang siapa yang masih menjadikan hawa nafsunya, adat istiadatnya, atau kepentingan pribadinya sebagai hakim di atas syariat, maka imannya belum sempurna.
Renungan dan Pesan Dakwah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini adalah cermin yang jujur bagi hati kita. Mari kita bertanya kepada diri sendiri: ketika terjadi masalah dalam rumah tangga, bisnis, atau pergaulan, apakah kita langsung merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah? Ataukah kita lebih dulu mengikuti opini publik, kebiasaan turun-temurun, atau bahkan hawa nafsu kita sendiri?
Sungguh, keindahan Islam terletak pada kepasrahan total kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika kita menyerahkan segala urusan kepada syariat, hati kita akan merasakan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada lagi kebingungan, tidak ada lagi kegelisahan, karena kita yakin bahwa Allah Maha Bijaksana dan Rasul-Nya ﷺ tidak pernah berbicara dari hawa nafsu.
Maka, mari kita latih diri kita untuk selalu menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai hakim dalam setiap perkara — besar maupun kecil. Dengan begitu, kita akan merasakan manisnya iman yang sejati, dan hati kita akan dipenuhi oleh kedamaian yang tiada tara. Inilah jalan menuju kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berserah diri dengan sempurna. Aamiin.
📜 Ayat 63-67 — An-Nisa
Terjemah — An-Nisa 65
Surat Ayat 65/176 — An-Nisa النساء (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: An-Nisa Dengarkan, An-Nisa Terjemah, An-Nisa mp3, An-Nisa pdf. Ayat 63–67. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








