Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- Rijālan: laki-laki dari jenis manusia, bukan malaikat.
- Ahl al-Qurā: penduduk negeri atau kota-kota besar (peradaban), bukan orang-orang badui/ pedalaman.
- Dār al-Ākhirah: negeri akhirat, yaitu kehidupan setelah kematian yang kekal.
- Yattaqū: orang-orang yang bertakwa, yaitu yang memelihara diri dari kemaksiatan dan menjalankan perintah Allah.
Tafsir Ayat:
Wahai Nabi Muhammad, ketahuilah bahwa Allah tidak pernah mengutus rasul-rasul sebelummu kecuali dari kalangan laki-laki manusia biasa, bukan malaikat. Mereka adalah manusia pilihan yang Allah berikan wahyu dan risalah kepadanya. Dan mereka diutus dari kalangan penduduk negeri-negeri besar, bukan dari kalangan badui atau orang-orang terpencil. Hal ini karena penduduk kota lebih mampu memahami dakwah, lebih terbuka peradabannya, dan lebih mudah menerima ajaran yang dibawa oleh para rasul.
Allah kemudian mengajak manusia untuk merenungkan sejarah: "Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akhir yang dialami oleh umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul?" Sungguh, mereka telah dibinasakan oleh Allah dengan berbagai azab — ada yang ditenggelamkan, ada yang disambar petir, ada yang dibalik negerinya. Semua itu adalah pelajaran berharga bagi siapa saja yang mau berpikir.
Kemudian Allah menegaskan bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih baik dan lebih mulia bagi orang-orang yang bertakwa. Kenikmatan dunia yang fana tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan kenikmatan surga yang kekal abadi. Maka mengapa manusia masih memilih kesenangan sesaat dan melupakan kebahagiaan yang kekal? Tidakkah mereka menggunakan akalnya untuk merenungkan hal ini?
Renungan dan Pesan Dakwah:
Saudaraku, ayat ini mengajarkan kita tiga pelajaran besar. *Pertama*, para rasul itu adalah manusia biasa seperti kita — mereka makan, minum, tidur, dan berjalan di pasar. Ini menunjukkan bahwa risalah Allah itu bisa dicapai oleh manusia, dan teladan mereka bisa kita ikuti dalam kehidupan sehari-hari. *Kedua*, sejarah adalah guru terbaik. Bangsa-bangsa yang sombong dan mendustakan kebenaran telah hancur, sementara kebenaran tetap abadi. Mari kita jadikan sejarah sebagai cermin untuk memperbaiki diri. *Ketiga*, akhirat adalah tujuan hakiki. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara, sedangkan akhirat adalah tempat tinggal yang kekal. Maka berbahagialah orang yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya, karena merekalah yang akan meraih kemenangan sejati.
Marilah kita senantiasa menggunakan akal yang Allah berikan untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya, mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan beruntung di dunia maupun di akhirat. Aamiin.
📜 Ayat 107-111 — Yusuf
Terjemah — Yusuf 109
Surat Yusuf Ayat 109 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami…Surat Ayat 109/111 — Yusuf يوسف (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Yusuf Dengarkan, Yusuf Terjemah, Yusuf mp3, Yusuf pdf. Ayat 107–111. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








