Terjemah — Tafsir
Makna Kata:
- Khatbuka (خَطْبُكَ): Artinya urusanmu, keadaanmu, atau perkara yang sedang kamu hadapi. Dalam konteks ini, maksudnya adalah "apa urusanmu" atau "apa yang mendorongmu" melakukan perbuatan tercela itu.
- As-Samiri (السَّامِرِيُّ): Julukan bagi seorang laki-laki dari Bani Israil yang bernama Munsyi bin Zafura, berasal dari kabilah Samirah. Ia adalah orang yang menyesatkan Bani Israil dengan mengeluarkan patung anak sapi yang dapat mengeluarkan suara.
Tafsir Ayat:
Setelah Allah Ta'ala menghancurkan patung anak sapi yang mereka sembah, dan setelah Musa 'alaihissalam kembali dari munajatnya kepada Rabbnya dengan membawa Taurat, beliau menghadapkan pertanyaan kepada orang yang menjadi biang keladi fitnah besar ini. Musa berkata kepada Samiri: "Wahai Samiri, apakah urusanmu ini? Apa yang mendorongmu melakukan perbuatan keji ini? Apa yang membuatmu berani menyesatkan kaumku dan mengajak mereka menyembah selain Allah?"
Pertanyaan ini adalah bentuk kecaman dan teguran keras dari Nabi Musa 'alaihissalam. Beliau tidak langsung menghukumnya sebelum mengetahui alasannya, padahal beliau sangat marah dan kecewa. Ini menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan seorang pemimpin dalam memutuskan perkara. Musa ingin menggali apa yang ada dalam hati Samiri, apakah ia melakukan ini karena kebodohan, kesengajaan, atau karena terpengaruh oleh sesuatu yang ia lihat.
Samiri telah melakukan dosa besar dengan mengajak Bani Israil menyembah patung anak sapi yang ia buat dari perhiasan emas mereka. Ia memanfaatkan kelemahan iman sebagian Bani Israil yang masih terbiasa dengan budaya penyembahan berhala dari masa kehidupannya di Mesir. Inilah bahayanya orang yang memiliki ilmu tetapi tidak dibarengi keikhlasan dan ketakwaan — ia bisa menggunakan pengetahuannya untuk menyesatkan manusia.
Hikmah dan Pelajaran:
- Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Sebagaimana Musa bertanya kepada Samiri, demikian pula kita kelak akan ditanya oleh Allah tentang setiap amal perbuatan kita. Maka hendaknya kita selalu introspeksi diri sebelum datang hari perhitungan.
- Kebijaksanaan dalam menghadapi kesalahan. Musa tidak langsung menghukum, tetapi bertanya terlebih dahulu. Ini mengajarkan kita untuk bersikap adil dan tidak tergesa-gesa dalam menilai kesalahan orang lain, meskipun kita sangat marah.
- Bahaya orang yang menyalahgunakan ilmu dan kemampuan. Samiri memiliki pengetahuan dan keterampilan, namun ia menggunakannya untuk menyesatkan manusia. Ini menjadi peringatan bagi kita agar ilmu yang kita miliki selalu dibingkai dengan keikhlasan karena Allah dan digunakan untuk kebaikan umat.
- Jangan mudah terpengaruh oleh tipu daya. Bani Israil yang baru saja keluar dari perbudakan Mesir masih lemah imannya, sehingga mudah tergoda oleh patung anak sapi. Ini mengingatkan kita untuk senantiasa memperkuat keimanan dan tidak mudah goyah oleh bujuk rayu siapa pun yang mengajak kepada kesesatan.
Semoga Allah melindungi kita dari fitnah yang menyesatkan, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang teguh di atas kebenaran, serta memberikan kita keikhlasan dalam setiap ilmu dan amal yang kita lakukan. Aamiin.
📜 Ayat 93-97 — Taha
Terjemah — Taha 95
Surat Ayat 95/135 — Taha طه (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Taha Dengarkan, Taha Terjemah, Taha mp3, Taha pdf. Ayat 93–97. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








