Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- بَصُرْتُ : Aku mengetahui/melihat dengan mata hatiku.
- قَبَضْتُ قَبْضَةً : Aku mengambil segenggam (tanah).
- أَثَرِ الرَّسُولِ : Bekas tapak kuda utusan (Jibril `alaihis salam).
- فَنَبَذْتُهَا : Maka aku melemparkannya.
- سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي : Nafsuku memperindah dan memperdayaiku.
Tafsir Ayat:
Ketika Nabi Musa `alaihis salam` kembali dari pertemuan dengan Tuhannya dan mendapati kaumnya telah menyembah patung anak sapi, beliau menegur Samiri dengan keras. Maka Samiri pun menjawab dengan pengakuan yang jujur namun penuh penyesalan: *"Aku mengetahui apa yang mereka tidak ketahui."* Ia menjelaskan bahwa ia telah melihat Malaikat Jibril `alaihis salam` ketika menunggang kudanya, saat Bani Israil melintasi laut dan Fir'aun serta bala tentaranya tenggelam. Samiri mengambil segenggam tanah dari bekas tapak kaki kuda Jibril tersebut, lalu melemparkannya ke dalam perhiasan emas yang telah dilebur dan dibentuk menyerupai anak sapi. Maka jadilah patung itu seperti anak sapi yang mengeluarkan suara (melenguh), sebagai ujian dan fitnah bagi Bani Israil.
Samiri kemudian mengakui bahwa perbuatan ini bukanlah berasal dari ilham yang benar, melainkan dari hawa nafsu dan bisikan jiwanya sendiri yang telah memperindah perbuatan buruk itu di matanya. Ia berkata: *"Demikianlah nafsuku telah memperdayaiku dan menjadikan perbuatan ini tampak baik di mataku."* Ini adalah pengakuan yang menunjukkan bahwa kebatilan itu datang dari dorongan hawa nafsu, bukan dari petunjuk Allah.
Renungan dan Pelajaran:
Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, kisah Samiri ini mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Betapa bahayanya ketika seseorang mengikuti hawa nafsu dan merasa dirinya lebih tahu daripada orang lain, sehingga ia berani melakukan perbuatan yang menyesatkan dirinya dan orang lain. Samiri merasa "melihat" sesuatu yang tidak dilihat orang lain, namun ternyata penglihatannya itu justru menjerumuskannya ke dalam kesesatan yang nyata.
Ketahuilah bahwa ilmu yang benar adalah ilmu yang bersumber dari wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya ﷺ, bukan dari perasaan, mimpi, atau bisikan jiwa semata. Setan dan hawa nafsu sering kali memperindah kebatilan sehingga tampak seperti kebenaran. Maka janganlah kita tertipu oleh perasaan "pintar" atau "lebih tahu" tanpa berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Marilah kita senantiasa berlindung kepada Allah dari bisikan jiwa yang menyesatkan, dan berdoalah sebagaimana doa Nabi kita ﷺ: *"Ya Allah, jadikanlah hatiku tenang dalam ketaatan kepada-Mu, dan janganlah Engkau biarkan aku mengikuti hawa nafsuku yang akan menyesatkanku dari jalan-Mu."* Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah yang menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman hidupnya, bukan hawa nafsu dan bisikan setan. Semoga Allah menjaga kita semua dari kesesatan dan menguatkan kita di atas kebenaran. Aamiin.
📜 Ayat 94-98 — Taha
Terjemah — Taha 96
Surat Taha Ayat 96 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Samiri menjawab: "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka…Surat Ayat 96/135 — Taha طه (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Taha Dengarkan, Taha Terjemah, Taha mp3, Taha pdf. Ayat 94–98. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








