Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- الْغَيْبَ (al-ghaib): segala perkara yang tersembunyi dan tidak dapat diketahui oleh makhluk, baik yang berkaitan dengan masa lalu, masa kini, maupun masa depan.
- أَيَّانَ (ayyāna): kata tanya yang berarti "kapan" atau "bilakah waktu".
- يُبْعَثُونَ (yub'atsūn): mereka dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat untuk dihisab dan diberi balasan.
Tafsir:
Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada orang-orang musyrik yang menanyakan tentang waktu datangnya hari kiamat: "Tidak ada seorang pun di langit maupun di bumi yang mengetahui perkara gaib, baik itu malaikat, jin, maupun manusia, kecuali Allah semata. Allah telah mengistimewakan diri-Nya dengan ilmu gaib yang tidak seorang pun mengetahuinya."
Mereka pun tidak menyadari dan tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan dari kubur mereka untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan di hadapan Allah. Pengetahuan tentang waktu kebangkitan itu sepenuhnya berada di sisi Allah, tidak seorang pun mengetahuinya, baik nabi yang diutus maupun malaikat yang didekatkan.
Ketika hari kiamat benar-benar tiba dan mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri segala peristiwa dahsyat yang terjadi, barulah pengetahuan mereka menjadi sempurna dan mereka pun yakin sepenuhnya akan kebenaran hari akhir. Namun keyakinan itu sudah tidak berguna lagi, karena sebelumnya di dunia mereka hidup dalam keraguan dan kebimbangan, bahkan penglihatan hati mereka telah buta dari kebenaran.
Renungan dan Nasihat:
Saudaraku seiman, ayat ini mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang keterbatasan ilmu makhluk dan keagungan ilmu Allah. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba canggih, manusia sering kali merasa dirinya hebat dan mampu mengetahui segala sesuatu. Padahal, di balik semua kemajuan teknologi dan sains, masih ada lautan ilmu gaib yang tak seorang pun mampu menyingkapnya kecuali Allah.
Ketika orang-orang musyrik bertanya tentang kapan datangnya hari kiamat, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menjawab dengan tegas: ilmu itu bukan urusan makhluk, melainkan hak prerogatif Allah semata. Ini adalah pengajaran yang sangat indah tentang adab seorang hamba di hadapan Rabb-nya — bahwa kita harus mengakui keterbatasan kita dan berserah diri sepenuhnya kepada ilmu Allah yang Maha Luas.
Renungkanlah, wahai saudaraku! Jika kita tidak tahu kapan ajal menjemput, kapan hari kiamat tiba, maka seharusnya kita senantiasa mempersiapkan diri dengan amal saleh. Jangan biarkan waktu berlalu sia-sia, karena setiap detik yang kita lalui adalah kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah. Betapa indahnya jika kita menjadi hamba yang selalu sadar bahwa suatu saat kita akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan setiap amal kita.
Marilah kita jadikan ayat ini sebagai pengingat untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, memperbanyak amal ibadah, serta menjauhi segala larangan Allah. Karena sesungguhnya, kebahagiaan hakiki bukan terletak pada seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan pada seberapa baik kita mempersiapkan diri untuk perjumpaan dengan Allah di akhirat kelak. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang selalu rindu akan kebaikan dan menjauhkan kita dari kelalaian yang melalaikan.
📜 Ayat 63-67 — An-Naml
Terjemah — An-Naml 65
Surat An-Naml Ayat 65 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang…Surat Ayat 65/93 — An-Naml النمل (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: An-Naml Dengarkan, An-Naml Terjemah, An-Naml mp3, An-Naml pdf. Ayat 63–67. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








