Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Sulit:
- Hawāhu (هَوَاهُ): keinginan hawa nafsu yang cenderung kepada hal-hal yang disukai jiwa, baik yang benar maupun yang salah.
- Aḍallahū (أَضَلَّهُ): menjadikannya sesat dan tersesat dari jalan kebenaran.
- Khatama (خَتَمَ): menutup dan mengunci sehingga tidak ada lagi yang bisa masuk atau keluar.
- Ghisywah (غِشَاوَةً): penutup atau tabir yang menghalangi penglihatan.
Tafsir Ayat:
Wahai Rasulullah, pernahkah engkau melihat dan merenungkan keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya? Yaitu orang yang tidak memiliki keinginan lain kecuali mengikuti apa yang dikehendaki oleh nafsunya, tanpa mempertimbangkan benar atau salah, halal atau haram. Ia bagaikan hamba yang tunduk kepada tuhannya, namun tuhannya itu adalah hawa nafsunya sendiri.
Orang-orang Arab pada masa jahiliah biasa menyembah batu, emas, dan perak. Jika mereka menemukan sesuatu yang lebih bagus dari yang mereka sembah, mereka membuang atau menghancurkan yang lama lalu menyembah yang baru. Demikianlah mereka tunduk kepada selera dan keinginan mereka semata.
Allah telah menyesatkan orang yang demikian itu dengan ilmu-Nya yang Mahaluas, karena mereka telah mengetahui kebenaran namun dengan sengaja berpaling darinya. Mereka telah sampai kepada mereka hujah dan bukti yang jelas, tetapi mereka tetap memilih kesesatan. Maka Allah mengunci hati mereka sehingga tidak dapat menerima nasihat, menutup pendengaran mereka sehingga tidak dapat mendengar petunjuk dengan pendengaran yang bermanfaat, dan menjadikan pada penglihatan mereka tabir yang menghalangi mereka dari melihat kebenaran.
Maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah Allah sesatkan? Tidak ada seorang pun yang mampu memberinya hidayah setelah Allah memutuskan untuk menyesatkannya. Maka apakah kalian tidak mau mengambil pelajaran, wahai manusia, bahwa mengikuti hawa nafsu akan membawa kepada kesesatan dan kebinasaan, sedangkan mengikuti syariat Allah akan membawa kepada petunjuk dan kebahagiaan?
Ayat ini menjadi peringatan besar bagi setiap mukmin agar tidak menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin dalam setiap tindakan dan keputusan. Betapa banyak orang yang merugi karena mengikuti keinginan hatinya tanpa mempertimbangkan ridha Allah. Sebaliknya, betapa bahagianya orang yang menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman hidupnya, karena ia akan senantiasa berada dalam lindungan dan petunjuk Allah.
Saudaraku, renungkanlah! Allah Maha Penyayang telah membukakan pintu hidayah bagi siapa saja yang mau berfikir dan kembali kepada-Nya. Jangan biarkan hawa nafsu menguasai hatimu sehingga engkau menjadi buta dari kebenaran. Sesungguhnya kemenangan sejati adalah ketika engkau mampu menundukkan hawa nafsumu di bawah bimbingan wahyu, bukan sebaliknya. Maka bertakwalah kepada Allah, karena hanya dengan ketakwaan hati menjadi hidup, pendengaran menjadi peka, dan penglihatan menjadi terang untuk melihat kebenaran di tengah gelapnya godaan dunia.
📜 Ayat 21-25 — Al-Jasiyah
Terjemah — Al-Jasiyah 23
Surat Ayat 23/37 — Al-Jasiyah الجاثية (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Jasiyah Dengarkan, Al-Jasiyah Terjemah, Al-Jasiyah mp3, Al-Jasiyah pdf. Ayat 21–25. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








