At-Taubah · 88/129
Terjemah Transliterasi — At-Taubah
لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝٨٨
Laakinir Rasoolu wal lazeena aamanoo ma`ahoo jaahadoo bi amwaalihim wa anfusihim; wa ulaaa`ika lahumul khairaatu wa ulaaa`ika humul muflihoon
📖 Arti Bahasa Indonesia
Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
📜

Terjemah — Tafsir

Makna Kata-Kata Sulit:

  • لَٰكِنِ (lakin): Akan tetapi / namun (sebagai istidrāk atau koreksi terhadap keadaan orang-orang munafik yang enggan berjihad).
  • جَاهَدُوا (jāhadū): Mereka bersungguh-sungguh dan berjuang dengan mengerahkan segala kemampuan.
  • بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ (bi amwālihim wa anfusihim): Dengan harta benda mereka dan jiwa raga mereka.
  • الْخَيْرَاتُ (al-khairāt): Segala kebaikan dan keutamaan, baik di dunia maupun di akhirat.
  • الْمُفْلِحُونَ (al-muflihūn): Orang-orang yang beruntung dan memperoleh kemenangan.

Tafsir Ayat:

Setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala menyingkapkan sikap buruk orang-orang munafik yang enggan berangkat berjihad dan lebih memilih duduk-duduk santai di rumah, Allah langsung menegaskan dengan firman-Nya: *"Akan tetapi Rasulullah dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka."* Maksudnya, meskipun orang-orang munafik itu memilih bermalas-malasan dan tidak ikut serta dalam peperangan, namun hal itu sama sekali tidak melemahkan perjuangan Islam. Sebab, telah berdiri di barisan terdepan Rasulullah ﷺ beserta para sahabat yang beriman dengan keimanan yang tulus dan benar. Mereka tidak seperti orang-orang munafik yang hanya berpangku tangan. Mereka justru mengerahkan seluruh potensi yang mereka miliki—harta benda mereka infakkan di jalan Allah, dan jiwa raga mereka korbankan demi meninggikan kalimat-Nya. Mereka berangkat dengan penuh keikhlasan, tanpa ragu dan tanpa pamrih, hanya mengharap ridha Allah semata.

Kemudian Allah berfirman: *"Dan mereka itulah yang memperoleh kebaikan-kebaikan."* Yakni, bagi mereka tersedia segala bentuk kebaikan yang melimpah, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, mereka mendapatkan kemenangan atas musuh-musuh Allah, harta rampasan perang sebagai balasan atas pengorbanan mereka, serta kemuliaan dan kehormatan di tengah masyarakat. Adapun di akhirat, mereka akan mendapatkan surga yang penuh kenikmatan, keridhaan Allah, dan kemuliaan yang tiada tara. Inilah balasan yang dijanjikan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan berjihad di jalan-Nya.

Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: *"Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."* Maksudnya, merekalah orang-orang yang benar-benar meraih keberuntungan yang hakiki—bukan keberuntungan semu yang hanya berupa harta dan kesenangan dunia yang fana. Mereka berhasil meraih segala yang mereka inginkan (kemenangan dan surga) dan selamat dari segala yang mereka takuti (kekalahan dan azab neraka). Keberuntungan mereka adalah keberuntungan yang abadi, yang tidak akan pernah sirna dan tidak akan pernah berakhir.


Sentuhan Dakwah:

Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat yang mulia ini mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran yang sangat berharga. Bahwa kemuliaan dan keberuntungan yang hakiki tidaklah diukur dari banyaknya harta, kedudukan, atau sekadar pengakuan orang lain. Akan tetapi, kemuliaan yang sejati terletak pada kesediaan kita untuk berkorban di jalan Allah—baik dengan harta maupun dengan jiwa kita. Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya menjadi teladan terbaik dalam hal ini. Mereka tidak pernah menghitung-hitung apa yang mereka korbankan. Harta yang mereka cintai, mereka infakkan dengan penuh keikhlasan. Jiwa yang mereka miliki, mereka hadapkan ke medan perang tanpa rasa takut. Dan hasilnya? Allah memberikan kepada mereka kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat, serta menjadikan mereka sebagai orang-orang yang beruntung.

Marilah kita renungkan sejenak: Apakah kita sudah termasuk golongan yang berjihad dengan harta dan jiwa kita? Jihad tidak selalu berarti berperang mengangkat senjata. Dalam kehidupan kita sehari-hari, jihad dengan harta bisa kita wujudkan melalui sedekah, zakat, infak, dan membantu sesama yang membutuhkan. Adapun jihad dengan jiwa, kita wujudkan dengan menuntut ilmu, bersabar dalam menghadapi cobaan, berdakwah mengajak kebaikan, dan berusaha memperbaiki diri. Setiap langkah kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas karena Allah, sekecil apa pun, akan dicatat sebagai amal jihad yang bernilai di sisi-Nya. Maka, janganlah kita menjadi orang yang hanya duduk-duduk santai sementara agama Allah membutuhkan perjuangan kita. Bangkitlah, berkorbarlah, dan raihlah keberuntungan yang hakiki di sisi Allah. Karena sesungguhnya, keberuntungan yang sejati hanyalah milik orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan-Nya.

🎧 Dengarkan

📜 Ayat 86-90 — At-Taubah

86وَإِذَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُوا بِاللَّهِ وَجَاهِدُوا مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُولُو الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوا ذَرْنَا نَكُن مَّعَ الْقَاعِدِينَ
Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): "Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya", niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: "Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk".
87رَضُوا بِأَن يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang, dan hati mereka telah dikunci mati maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad).
88لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
89أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
90وَجَاءَ الْمُعَذِّرُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِينَ كَذَبُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ سَيُصِيبُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan 'uzur, yaitu orang-orang Arab Baswi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih.
At-TaubahIndeks Quran
129Ayat
MadaniyahRevelation
88Ayat

Terjemah — At-Taubah 88

Surat At-Taubah Ayat 88 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad…

Surat Ayat 88/129 — At-Taubah التوبة (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: At-Taubah Dengarkan, At-Taubah Terjemah, At-Taubah mp3, At-Taubah pdf. Ayat 86–90. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.




Al-Quran


Tuesday, August 18, 2026

Jangan lupakan kami dalam doa baikmu