Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Sulit:
- أَصَلَاتُكَ (Apakah shalatmu): Shalat yang dimaksud di sini adalah shalat yang dilakukan oleh Nabi Syu'aib 'alaihissalam, yang beliau laksanakan secara rutin dan terus-menerus.
- الْحَلِيمُ (Yang santun/penyantun): Sifat yang menunjukkan kelembutan, kesabaran, dan tidak tergesa-gesa dalam bertindak.
- الرَّشِيدُ (Yang cerdas/petunjuk): Orang yang memiliki kebijaksanaan, kecerdasan, dan berada di atas jalan yang benar.
Tafsir Ayat:
Kaum Nabi Syu'aib 'alaihissalam berkata kepadanya dengan nada mengejek dan merendahkan: "Wahai Syu'aib, apakah shalat yang engkau lakukan itu memerintahkanmu untuk melarang kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami, yaitu berhala-berhala yang telah kami warisi turun-temurun? Dan apakah shalatmu itu juga memerintahkanmu untuk melarang kami mengelola harta kami sesuka hati, termasuk mengurangi takaran dan timbangan, serta melakukan berbagai macam kecurangan dalam bermuamalah?"
Mereka berkata demikian dengan penuh keheranan dan ejekan, seolah-olah shalat yang dilakukan Nabi Syu'aib telah mengubah akal sehatnya sehingga ia berani melarang mereka melakukan apa yang mereka anggap sebagai hak mutlak mereka. Padahal, apa yang diserukan oleh Nabi Syu'aib adalah perintah Allah untuk meninggalkan kemusyrikan dan kecurangan dalam bermuamalah.
Kemudian mereka menutup perkataan mereka dengan ejekan yang lebih pedas lagi: "Sesungguhnya engkau wahai Syu'aib adalah orang yang sangat santun dan cerdas!" Ucapan ini mereka lontarkan bukan sebagai pujian, melainkan sebagai sindiran dan olok-olokkan. Maksud tersembunyi mereka adalah: "Engkau ini orang yang kami kenal sebagai pribadi yang santun dan bijaksana, maka bagaimana mungkin engkau mengajak kami kepada hal yang menurut kami keliru ini? Sungguh, engkau telah menyimpang dari kebenaran dengan ajakanmu ini."
Mereka mengejek Nabi Syu'aib dengan menyebut sifat-sifat mulia yang sebenarnya melekat pada dirinya, namun mereka gunakan sebagai alat untuk merendahkan dakwahnya. Ini menunjukkan betapa keras kepala dan sombongnya mereka dalam menolak kebenaran, bahkan mereka mengolok-olok seorang nabi yang mulia.
Hikmah dan Pelajaran:
Saudaraku kaum muslimin, ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam berdakwah, seorang muslim pasti akan menghadapi berbagai macam cobaan, termasuk ejekan dan hinaan dari orang-orang yang menentang kebenaran. Namun, kita harus tetap teguh dan sabar sebagaimana Nabi Syu'aib 'alaihissalam yang tidak goyah menghadapi ejekan kaumnya.
Perhatikanlah bagaimana mereka menjadikan ibadah shalat sebagai bahan ejekan. Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang jauh dari petunjuk Allah akan selalu mencari-cari alasan untuk menolak kebenaran, bahkan terhadap hal-hal yang paling mulia sekalipun. Maka janganlah kita pernah merasa malu atau gentar ketika menjalankan perintah Allah, karena ejekan manusia tidak akan mengurangi sedikit pun kemuliaan di sisi Allah.
Ketahuilah bahwa shalat adalah tiang agama yang akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Jika kita benar-benar menghayati shalat kita, maka ia akan membimbing kita kepada kebaikan, kejujuran, dan keadilan dalam segala urusan, termasuk dalam bermuamalah dengan sesama. Maka perbanyaklah shalat dan hayatilah maknanya, niscaya hatimu akan menjadi bersih dan hidupmu akan dipenuhi keberkahan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang teguh dalam kebenaran dan tidak mudah goyah oleh ejekan orang-orang yang ingkar. Aamiin.
📜 Ayat 85-89 — Hud
Terjemah — Hud 87
Surat Hud Ayat 87 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami…Surat Ayat 87/123 — Hud هود (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Hud Dengarkan, Hud Terjemah, Hud mp3, Hud pdf. Ayat 85–89. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








