Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- Lā Taqshush: Janganlah engkau ceritakan atau sampaikan.
- Fa Yakīdū: Maka mereka akan merencanakan tipu daya atau keburukan.
- Kaidan: Tipu muslihat yang halus dan terencana untuk mencelakakan.
- ‘Adūwun Mubīn: Musuh yang nyata dan jelas permusuhannya.
Tafsir Ayat:
Ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam menceritakan mimpinya yang agung—tentang sebelas bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya—sang ayah, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, yang dianugerahi Allah ilmu dan kearifan, segera memahami makna di balik mimpi tersebut. Beliau tahu bahwa mimpi itu adalah isyarat kenabian dan keutamaan besar yang akan Allah berikan kepada putranya. Namun, karena kasih sayang dan kewaspadaan seorang ayah yang bijaksana, beliau khawatir jika kabar ini sampai kepada saudara-saudara Yusuf yang lain, maka hati mereka akan dipenuhi rasa iri dan dengki.
Oleh karena itu, beliau berpesan dengan penuh kelembutan, “Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu ini kepada saudara-saudaramu.” Beliau khawatir mereka akan memahami maknanya, lalu timbul dalam hati mereka perasaan hasad yang mendorong mereka untuk merencanakan keburukan dan tipu daya terhadap Yusuf. Ya’qub mengetahui betul watak anak-anaknya, dan beliau ingin melindungi Yusuf dari bahaya yang mungkin datang dari orang-orang terdekatnya sendiri.
Kemudian beliau menjelaskan alasan di balik larangan ini dengan menyebutkan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Setan senantiasa membisikkan keburukan, meniupkan api kedengkian, dan memperindah perbuatan jahat di mata manusia. Setanlah yang mendorong manusia untuk saling hasud, saling membenci, dan saling mencelakakan. Maka, menutup rapat hal-hal yang berpotensi menimbulkan kejahatan adalah bagian dari kewaspadaan yang diajarkan oleh para nabi.
Hikmah dan Pelajaran:
Ayat ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya menjaga rahasia dan tidak menceritakan nikmat atau kelebihan yang kita miliki kepada orang-orang yang belum tentu mampu menyikapinya dengan baik. Bukan berarti kita harus selalu bersembunyi, tetapi bijak dalam memilih kepada siapa kita berbagi kabar adalah bagian dari kecerdasan emosional dan spiritual.
Kita juga belajar bahwa rasa iri dan dengki adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, dan setan senantiasa memanfaatkannya untuk menghancurkan hubungan persaudaraan. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk selalu berlindung kepada Allah dari kejahatan setan, menjaga lisan, dan menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah dengan cara yang tepat—tanpa memancing keburukan orang lain.
Dan ingatlah, kasih sayang seorang ayah seperti Ya’qub kepada anaknya adalah gambaran kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah selalu melindungi hamba-Nya dengan cara yang mungkin tidak kita sadari, dan Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Maka, bertawakallah kepada Allah, jaga rahasia dengan baik, dan yakinlah bahwa pertolongan Allah pasti datang bagi orang-orang yang bersabar dan bertakwa.
📜 Ayat 3-7 — Yusuf
Terjemah — Yusuf 5
Surat Yusuf Ayat 5 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada…Surat Ayat 5/111 — Yusuf يوسف (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Yusuf Dengarkan, Yusuf Terjemah, Yusuf mp3, Yusuf pdf. Ayat 3–7. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








