Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- اسْتِغْفَار (Istighfar): Permohonan ampunan kepada Allah.
- مَوْعِدَة (Mau'idah): Janji.
- تَبَرَّأَ (Tabarra-a): Berlepas diri, memutuskan hubungan.
- أَوَّاه (Awwah): Orang yang banyak berdoa, merendahkan diri, dan sangat khusyuk kepada Allah.
- حَلِيم (Halim): Penyantun, penyabar, dan pemaaf.
Tafsir Ayat:
Saudaraku sekalian, ayat yang mulia ini menjelaskan kepada kita tentang kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam dengan ayahnya, Azar. Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin meluruskan pemahaman kita agar tidak salah menilai sikap Nabi Ibrahim yang pernah memohonkan ampunan untuk ayahnya yang musyrik.
Perlu kita ketahui, bahwa permohonan ampunan Nabi Ibrahim untuk ayahnya itu bukanlah karena beliau meridhai kekufuran ayahnya, melainkan hanya karena sebuah janji yang telah beliau ucapkan kepada ayahnya. Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya: *"Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku."* (QS. Maryam: 47). Beliau berharap dengan doa dan nasihat yang lembut, ayahnya akan mendapat hidayah dan beriman kepada Allah.
Akan tetapi, ketika telah jelas bagi Nabi Ibrahim melalui wahyu dari Allah bahwa ayahnya adalah musuh Allah, karena dia akan mati dalam keadaan kafir dan tidak akan pernah menerima kebenaran, maka saat itulah Nabi Ibrahim berlepas diri darinya dan menghentikan permohonan ampunan tersebut. Ini menunjukkan bahwa istighfar Nabi Ibrahim bukanlah karena keraguan atau kecintaan yang buta, melainkan murni karena harapan akan hidayah, dan beliau sepenuhnya tunduk kepada ketetapan Allah.
Kemudian Allah memuji Nabi Ibrahim dengan dua sifat yang agung: beliau adalah Awwah, yaitu orang yang sangat banyak merendahkan diri, berdoa, dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah dengan penuh ketundukan. Dan beliau adalah Halim, yaitu orang yang sangat penyantun dan pemaaf, tidak mudah marah dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, bahkan kepada orang-orang yang menyakitinya sekalipun.
Renungan dan Pelajaran:
Sungguh indah teladan yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an ini. Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan kita bahwa kasih sayang kepada keluarga haruslah dibingkai dengan ketaatan kepada Allah. Kita boleh mencintai dan berbuat baik kepada orang tua, tetapi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya haruslah di atas segalanya. Jika ada orang tua atau kerabat yang menentang agama Allah hingga akhir hayatnya, maka kita tetap berbuat baik kepada mereka di dunia, namun hati kita tidak boleh ikut meridhai kekufuran mereka.
Ayat ini juga mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang Awwah — dekat dengan Allah, banyak berdoa, dan merendahkan diri di hadapan-Nya — serta pribadi yang Halim — penyantun dan pemaaf kepada sesama. Dengan dua sifat inilah hati menjadi tenang, keluarga menjadi harmonis, dan masyarakat menjadi damai. Mari kita jadikan Nabi Ibrahim sebagai teladan dalam kelembutan hati, keteguhan prinsip, dan kepasrahan total kepada Allah. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai dan diberi keteguhan iman. Aamiin.
📜 Ayat 112-116 — At-Taubah
Terjemah — At-Taubah 114
Surat At-Taubah Ayat 114 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak…Surat Ayat 114/129 — At-Taubah التوبة (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: At-Taubah Dengarkan, At-Taubah Terjemah, At-Taubah mp3, At-Taubah pdf. Ayat 112–116. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu







