Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- الْفُلْكِ (al-fulk): Kapal atau bahtera yang berlayar di lautan.
- مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (mukhliṣīna lahud-dīn): Memurnikan ibadah dan doa hanya kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
- نَجَّاهُمْ (najjāhum): Menyelamatkan mereka dari bahaya tenggelam dan kebinasaan.
- يُشْرِكُونَ (yusyrikūn): Kembali mempersekutukan Allah dengan menyembah atau berdoa kepada selain-Nya.
Tafsir Ayat:
Ayat yang mulia ini menggambarkan kondisi nyata manusia, khususnya orang-orang musyrik, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terdesak. Apabila mereka menaiki kapal di tengah lautan yang bergelora, dan ombak menghempas dari segala arah, sementara rasa takut tenggelam menyelimuti hati mereka, maka pada saat itulah mereka melupakan berhala-berhala dan sesembahan mereka. Mereka berseru hanya kepada Allah dengan penuh keikhlasan, memurnikan doa dan permohonan hanya kepada-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Mereka sadar bahwa tidak ada yang mampu menyelamatkan mereka dari bahaya maut itu kecuali Allah semata.
Akan tetapi, ketika Allah Yang Maha Penyayang telah menyelamatkan mereka dan mengantarkan mereka ke daratan yang aman, serta rasa takut itu telah hilang, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah. Mereka kembali menyembah berhala, memanjatkan doa kepada patung-patung, dan mengingkari nikmat keselamatan yang telah Allah berikan. Sungguh, ini adalah sikap yang sangat kontradiktif dan tidak konsisten. Di saat sulit mereka bertauhid, tetapi di saat lapang mereka berbuat syirik.
Perilaku ini menunjukkan bahwa keimanan mereka hanyalah keimanan darurat yang muncul karena keterpaksaan, bukan keimanan yang tertanam dalam hati. Mereka mengingkari nikmat Allah yang telah menyelamatkan jiwa dan harta mereka, dan mereka memilih untuk bersenang-senang dalam kesesatan di dunia ini. Namun, Allah memberikan ancaman yang tegas: kelak mereka akan mengetahui akibat buruk dari perbuatan mereka, dan mereka akan merasakan azab yang pedih di hari kiamat sebagai balasan atas kekufuran dan kesyirikan mereka.
Pelajaran dan Hikmah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat berharga. Fitrah manusia sebenarnya mengakui keesaan Allah, dan dalam keadaan sulit, hati manusia secara naluriah akan kembali kepada Allah. Namun, syaitan selalu berusaha menyesatkan manusia setelah mereka selamat dari kesulitan, agar mereka kembali lalai dan berbuat syirik.
Oleh karena itu, seorang mukmin sejati adalah yang konsisten dalam bertauhid, baik dalam keadaan sulit maupun lapang. Ia berdoa kepada Allah saat ditimpa musibah, dan ia pun bersyukur serta tetap taat kepada Allah saat mendapatkan nikmat. Janganlah kita menjadi seperti orang-orang yang hanya mengingat Allah ketika susah, tetapi melupakan-Nya ketika senang.
Marilah kita jadikan ayat ini sebagai cermin bagi diri kita. Apakah kita termasuk orang yang istiqamah di atas tauhid, atau justru termasuk orang yang mudah tergelincir ke dalam kesyirikan dan kelalaian ketika nikmat datang menghampiri? Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita di atas iman dan Islam, dan menjauhkan kita dari sifat munafik dan ingkar nikmat. Aamiin.
📜 Ayat 63-67 — Al-'Ankabut
Terjemah — Al-'Ankabut 65
Surat Al-'Ankabut Ayat 65 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan…Surat Ayat 65/69 — Al-'Ankabut العنكبوت (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-'Ankabut Dengarkan, Al-'Ankabut Terjemah, Al-'Ankabut mp3, Al-'Ankabut pdf. Ayat 63–67. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








