Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Żal-Qurbā: Kerabat dekat yang memiliki hubungan darah.
- Al-Miskīn: Orang yang sangat membutuhkan, tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya.
- Ibnu Sabīl: Musafir yang kehabisan bekal dan terputus dari hartanya di tengah perjalanan.
- Tabżīr: Membelanjakan harta secara boros, berlebihan, atau pada hal-hal yang merusak dan tidak bermanfaat.
Tafsir Ayat:
Wahai hamba Allah yang beriman, Allah memerintahkanmu untuk menunaikan hak-hak orang-orang di sekitarmu dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang. Pertama, berikanlah hak kepada kerabat dekatmu—baik berupa bantuan materi, dukungan moral, maupun silaturahmi yang hangat. Jangan biarkan ikatan keluarga terputus karena kesibukan duniawi, karena menjaga hubungan kekerabatan adalah pintu rezeki dan keberkahan umur.
Kedua, perhatikanlah kaum miskin yang berada di sekitarmu. Mereka adalah saudara-saudaramu yang sedang diuji dengan kekurangan. Berikanlah hak mereka dari hartamu, baik melalui zakat wajib maupun sedekah sunnah. Ingatlah bahwa di dalam harta yang Allah titipkan kepadamu, terdapat hak bagi mereka yang membutuhkan.
Ketiga, jangan lupakan ibnu sabil—para musafir yang terdampar jauh dari keluarga dan hartanya. Mereka mungkin orang baik yang sedang dalam perjalanan mencari nafkah atau menuntut ilmu, lalu kehabisan bekal. Ulurkanlah tanganmu kepada mereka, karena menolong orang yang terputus perjalanannya adalah amal yang sangat mulia di sisi Allah.
Kemudian Allah menutup ayat ini dengan larangan yang tegas: "Janganlah engkau berbuat tabżīr (pemborosan)". Tabżīr adalah membelanjakan harta pada hal-hal yang sia-sia, berlebihan, atau bahkan pada kemaksiatan. Allah melarangmu menjadi pribadi yang boros, karena pemborosan adalah saudara setan. Orang yang boros tidak akan pernah merasa cukup, dan hartanya akan habis tanpa membawa manfaat baik di dunia maupun di akhirat.
Renungan dan Pesan Dakwah:
Saudaraku, ayat ini mengajarkan kita keseimbangan hidup yang indah. Di satu sisi kita diperintahkan untuk dermawan kepada sesama—kepada kerabat, fakir miskin, dan musafir—namun di sisi lain kita dilarang menjadi pemboros. Ini menunjukkan bahwa Islam menginginkan umatnya menjadi pribadi yang dermawan namun bijaksana, murah hati namun tetap menjaga harta.
Bayangkan betapa indahnya masyarakat yang saling memperhatikan: kerabat saling menyambung tali kasih, kaum miskin terbantu, dan para musafir tidak terlantar. Bukankah itu gambaran masyarakat yang dirindukan oleh setiap jiwa? Islam datang untuk mewujudkan kehangatan sosial seperti ini, bukan untuk membiarkan manusia hidup egois dan saling melupakan.
Dan ingatlah, harta yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Jika kita gunakan untuk kebaikan, ia akan menjadi tabungan akhirat yang kekal. Namun jika kita sia-siakan, ia akan menjadi saksi keburukan kita di hadapan Allah. Maka jadilah hamba yang pandai bersyukur—menggunakan nikmat Allah di jalan yang diridhai-Nya, bukan di jalan yang dimurkai-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai menunaikan hak sesama dan menjaga amanah harta dengan sebaik-baiknya. Aamiin.
📜 Ayat 24-28 — Al-Isra
Terjemah — Al-Isra 26
Surat Al-Isra Ayat 26 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang…Surat Ayat 26/111 — Al-Isra الإسراء (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Isra Dengarkan, Al-Isra Terjemah, Al-Isra mp3, Al-Isra pdf. Ayat 24–28. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








