Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata yang Perlu Dijelaskan:
- الْقَرْيَةَ (al-qaryah): Kota, yaitu Baitul Maqdis (Yerusalem).
- رَغَدًا (raghadan): Kehidupan yang lapang, nyaman, dan melimpah tanpa kesulitan.
- سُجَّدًا (sujjad): Bentuk jamak dari *sājid*, maknanya di sini adalah tunduk, merendahkan diri, dan patuh kepada Allah, bukan sekadar sujud dalam shalat.
- حِطَّةٌ (hiththah): Permohonan agar dosa-dosa dihapuskan dan diampuni. Maknanya: "Wahai Tuhan kami, hapuskanlah dosa-dosa kami."
Tafsir Ayat:
Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat besar yang telah Kami anugerahkan kepada kalian ketika Kami berfirman: "Masuklah ke kota suci (Baitul Maqdis) yang telah Kami tetapkan untuk kalian. Makanlah dengan bebas dari segala rezeki yang halal dan baik di mana pun kalian suka di dalamnya, dalam keadaan lapang dan penuh kenikmatan. Namun, masukilah pintu gerbangnya dengan sikap tunduk dan merendahkan diri kepada Allah, bukan dengan kesombongan dan pembangkangan. Dan ucapkanlah permohonan ampun: 'Wahai Tuhan kami, hapuskanlah dosa-dosa kami.' Jika kalian melakukannya dengan ikhlas, niscaya Kami akan mengampuni segala kesalahan kalian dan menutupinya dari pandangan makhluk. Dan kelak Kami akan menambah karunia yang berlimpah bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dengan keikhlasan dan amal saleh mereka."
Ayat ini mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran agung: bahwa pintu menuju keberkahan dan ampunan Allah terbuka lebar bagi hamba-Nya yang mau masuk dengan kerendahan hati, bukan dengan kesombongan. Allah tidak hanya memerintahkan mereka untuk sekadar masuk ke kota itu, tetapi juga menuntut sikap batin yang benar—tunduk, patuh, dan penuh harap akan ampunan-Nya.
Perhatikanlah keindahan redaksi ayat ini: Allah menggandengkan perintah masuk dengan perintah merendahkan diri dan beristighfar. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan lahiriah (memasuki kota) tidak akan bermakna tanpa keberhasilan batiniah (ketundukan hati dan permohonan ampun). Betapa banyak orang yang berhasil memasuki pintu-pintu kesuksesan duniawi, tetapi hatinya tetap angkuh dan jauh dari Allah, sehingga keberhasilan itu tidak membawa ketenangan.
Saudaraku, ayat ini juga menjadi kabar gembira bagi setiap hamba yang ingin kembali kepada Allah. Pintu ampunan-Nya senantiasa terbuka. Ucapan *"hiththah"*—yang berarti permohonan agar dosa dihapuskan—mengajarkan kita untuk senantiasa beristighfar dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Bahkan, Allah menjanjikan tambahan karunia bagi orang-orang yang berbuat baik (*muhsinin*), yaitu mereka yang beribadah dengan penuh kesadaran seakan-akan melihat Allah, atau setidaknya yakin bahwa Allah melihat mereka.
Maka, marilah kita jadikan ayat ini sebagai cermin diri: ketika kita memasuki setiap "pintu" kehidupan—baik itu pekerjaan baru, pernikahan, atau perjuangan dakwah—hendaknya kita memasukinya dengan kerendahan hati, memohon ampunan, dan bertekad untuk berbuat baik. Karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya: ampunan bagi yang memohon, dan tambahan karunia bagi yang berbuat ihsan. Sungguh, betapa indahnya Islam yang mengajarkan kita untuk selalu dekat dengan Allah dalam setiap langkah kehidupan.
📜 Ayat 56-60 — Al-Baqarah
Terjemah — Al-Baqarah 58
Surat Ayat 58/286 — Al-Baqarah البقرة (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Baqarah Dengarkan, Al-Baqarah Terjemah, Al-Baqarah mp3, Al-Baqarah pdf. Ayat 56–60. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








