Terjemah — Tafsir
Makna Kata:
- Akhûhum (أَخُوهُمْ): Saudara mereka, yaitu dalam nasab/keturunan, bukan dalam agama. Nabi Hud 'alaihissalam berasal dari kaum 'Ad, sehingga beliau adalah saudara senasab dengan mereka.
- Hûd (هُودٌ): Nabi Allah yang diutus kepada kaum 'Ad yang tinggal di Al-Ahqaf (daerah antara Yaman dan Oman).
- Alâ tattaqûn (أَلَا تَتَّقُونَ): Tidakkah kalian bertakwa, yakni takut kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan serta beribadah hanya kepada-Nya?
Tafsir Ayat:
Ayat yang mulia ini mengisahkan tentang Nabi Hud 'alaihissalam ketika diutus kepada kaum 'Ad. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: *"Ingatlah ketika saudara mereka, Hud, berkata kepada mereka: 'Tidakkah kalian bertakwa?'"*
Yang dimaksud dengan "saudara mereka" di sini adalah saudara dalam nasab dan keturunan, bukan dalam agama. Sebab Nabi Hud 'alaihissalam berasal dari kalangan mereka sendiri, lahir dan tumbuh di tengah-tengah mereka. Hal ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada kaum tersebut, karena Dia mengutus seorang rasul dari kalangan mereka sendiri agar mereka lebih mudah menerima dakwahnya dan lebih percaya kepadanya, karena mereka mengetahui kejujuran dan amanahnya.
Nabi Hud 'alaihissalam membuka dakwahnya dengan pertanyaan yang menyentuh hati: *"Tidakkah kalian bertakwa?"* Pertanyaan ini bukan sekadar bertanya, tetapi merupakan teguran halus yang bertujuan membangkitkan kesadaran mereka. Beliau mengajak mereka untuk bertakwa kepada Allah, yaitu takut akan azab-Nya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan yang mereka lakukan.
Nabi Hud 'alaihissalam tidak memulai dengan ancaman atau kekerasan, tetapi dengan seruan yang lembut dan penuh hikmah. Beliau ingin menyadarkan mereka bahwa sudah sepantasnya manusia bertakwa kepada Pencipta-Nya yang telah memberikan segala nikmat. Beliau juga menegaskan bahwa dirinya adalah seorang rasul yang amanah, yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah Allah, dan beliau tidak meminta imbalan apa pun dari mereka atas dakwahnya itu. Balasannya hanya dari Allah Rabb semesta alam.
Hikmah dan Pelajaran:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kepada kita beberapa pelajaran berharga:
- Kelembutan dalam berdakwah: Nabi Hud memulai dakwahnya dengan kalimat yang menyentuh nurani, bukan dengan kekerasan. Ini menunjukkan bahwa cara terbaik untuk mengajak manusia kepada kebaikan adalah dengan hikmah dan nasihat yang baik.
- Kedekatan nasab bukan jaminan keimanan: Meskipun Nabi Hud adalah saudara mereka dalam nasab, kaum 'Ad tetap mendustakannya. Ini mengingatkan kita bahwa iman adalah anugerah dari Allah, dan hubungan darah tidak menjamin seseorang beriman.
- Keikhlasan dalam berdakwah: Nabi Hud tidak mengharapkan imbalan duniawi dari kaumnya. Beliau hanya mengharap pahala dari Allah. Inilah teladan bagi para dai dan penuntut ilmu agar ikhlas dalam menyampaikan kebenaran.
- Pentingnya takwa: Takwa adalah kunci keselamatan di dunia dan akhirat. Dengan bertakwa, seseorang akan dijaga oleh Allah dari segala keburukan dan diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan.
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang bertakwa dan senantiasa istiqamah di jalan Allah. Aamiin.
📜 Ayat 122-126 — Asy-Syu'ara
Terjemah — Asy-Syu'ara 124
Surat Asy-Syu'ara Ayat 124 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak…Surat Ayat 124/227 — Asy-Syu'ara الشعراء (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Asy-Syu'ara Dengarkan, Asy-Syu'ara Terjemah, Asy-Syu'ara mp3, Asy-Syu'ara pdf. Ayat 122–126. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








