Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Riḍwān: keridaan, kepuasan, dan penerimaan Allah terhadap hamba-Nya.
- Bā'a: kembali, membawa, atau menanggung (dalam konteks ini: kembali dengan membawa kemurkaan).
- Sakhaṭ: kemurkaan, kemarahan, dan kebencian Allah yang sangat besar.
- Ma'wā: tempat tinggal, tempat kembali, atau hunian akhir.
Tafsir Ayat:
Wahai saudaraku seiman, renungkanlah dengan hati yang jernih! Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya kepada kita dengan pertanyaan yang menggugah nurani: *"Apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali dengan membawa kemurkaan Allah?"*
Tentu saja tidak sama, dan tidak akan pernah sama! Ini adalah pertanyaan retoris yang menegaskan bahwa ada jurang pemisah yang sangat jauh antara dua golongan manusia. Golongan pertama adalah mereka yang menjadikan keridaan Allah sebagai tujuan hidupnya. Setiap langkah, setiap ucapan, setiap amal perbuatannya selalu diarahkan untuk mencari apa yang dicintai dan diridai oleh Allah. Mereka beriman dengan benar, beramal saleh dengan ikhlas, menjauhi larangan-Nya, dan menegakkan perintah-Nya. Mereka inilah orang-orang yang beruntung, yang hidupnya tenang, dan akhirnya akan mendapatkan surga yang penuh kenikmatan.
Adapun golongan kedua adalah mereka yang justru membawa diri mereka sendiri menuju murka Allah. Mereka tenggelam dalam kemaksiatan, mengikuti hawa nafsu, dan tidak peduli apakah Allah marah atau ridai. Mereka kembali kepada Allah dengan membawa "sakhaṭ" — kemurkaan yang sangat dahsyat — karena mereka telah mengingkari nikmat, melanggar perintah, dan berbuat kerusakan di muka bumi. Tempat tinggal mereka kelak adalah Jahannam, neraka yang apinya menyala-nyala. Dan sungguh, alangkah buruknya tempat kembali itu!
Ayat ini mengajarkan kita bahwa standar kemuliaan di sisi Allah bukanlah harta, pangkat, atau keturunan, melainkan sejauh mana kita mengikuti keridaan-Nya. Orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Maka, mari kita jadikan setiap detik kehidupan ini sebagai ladang untuk meraih keridaan Allah. Jangan sampai kita termasuk golongan yang "bā'a bisakhaṭ" — yang pulang ke hadirat Allah dalam keadaan dimurkai. Na'udzu billah!
Saudaraku, betapa indahnya hidup ini jika kita selalu dalam naungan keridaan Allah. Hati menjadi tenang, rezeki dimudahkan, dan masa depan yang kekal pun cerah. Sebaliknya, betapa celakanya jika kita harus menghuni Jahannam karena kemaksiatan yang kita lakukan. Maka, mari kita perbaiki niat, luruskan ibadah, dan perbanyak taubat sebelum ajal menjemput. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, pintu taubat selalu terbuka bagi hamba-Nya yang ingin kembali ke jalan yang lurus. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mencari keridaan-Nya dan dijauhkan dari kemurkaan-Nya. Aamiin.
📜 Ayat 160-164 — Ali Imran
Terjemah — Ali Imran 162
Surat Ali Imran Ayat 162 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang…Surat Ayat 162/200 — Ali Imran آل عمران (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Ali Imran Dengarkan, Ali Imran Terjemah, Ali Imran mp3, Ali Imran pdf. Ayat 160–164. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








