Terjemah — Tafsir
Makna Kata-kata yang Perlu Dijelaskan:
- بَشَرٌ مِّثْلُنَا (basyarun mitsluna): Manusia biasa seperti kami, yang makan, minum, dan berjalan di pasar-pasar.
- بِآيَةٍ (bi-āyah): Tanda atau mukjizat yang menjadi bukti kebenaran.
- الصَّادِقِينَ (ash-shādiqīn): Orang-orang yang benar dalam perkataan dan pengakuannya.
Tafsir Ayat:
Kaum Tsamud berkata kepada Nabi Shalih 'alaihis salam dengan nada penuh kesombongan dan keingkaran: "Engkau tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami. Engkau makan dan minum sebagaimana kami makan dan minum, engkau berjalan di pasar-pasar sebagaimana kami berjalan. Tidak ada keistimewaan apa pun yang membuatmu lebih tinggi dari kami sehingga pantas menerima wahyu dari Allah. Jika benar engkau seorang rasul yang diutus kepada kami, maka datangkanlah suatu mukjizat yang nyata dan tanda yang jelas yang membuktikan kebenaran pengakuanmu itu."
Mereka menuntut bukti yang dapat dilihat dengan mata kepala mereka sendiri, karena hati mereka telah tertutup oleh kesombongan dan keingkaran. Padahal Nabi Shalih telah berdakwah kepada mereka dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, mengajak mereka kepada tauhid dan meninggalkan penyembahan berhala. Namun mereka tetap membangkang dan menantang agar beliau mendatangkan mukjizat yang nyata.
Sentuhan Dakwah dan Pelajaran Berharga:
Saudaraku, perhatikanlah bagaimana kaum Tsamud menolak kebenaran hanya karena Nabi Shalih adalah manusia biasa seperti mereka. Mereka mengira bahwa seorang rasul itu haruslah malaikat yang turun dari langit, padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hikmah-Nya yang agung memilih para rasul dari kalangan manusia itu sendiri, agar mereka dapat menjadi teladan yang nyata dan mudah dicontoh oleh umatnya.
Sungguh, ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Janganlah kita menolak kebenaran hanya karena pembawanya adalah manusia biasa seperti kita. Kebenaran tetaplah kebenaran, dari siapa pun ia datang. Allah mengutus para rasul dari kalangan manusia agar dakwah mereka lebih mudah diterima dan diamalkan, karena mereka merasakan apa yang dirasakan manusia, menghadapi ujian yang sama, dan tetap teguh di atas kebenaran.
Ketika kaum Tsamud menantang Nabi Shalih untuk mendatangkan mukjizat, Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian mengabulkan permintaan mereka dengan mengeluarkan seekor unta betina yang sangat besar dari batu yang kokoh sebagai mukjizat yang nyata. Namun sayang, mereka tetap tidak beriman dan bahkan membunuh unta tersebut, sehingga azab Allah pun menimpa mereka.
Marilah kita renungkan, betapa banyak di antara kita yang menuntut bukti-bukti kebenaran, padahal Al-Qur'an itu sendiri adalah mukjizat terbesar yang abadi hingga akhir zaman. Kandungannya yang ilmiah, keindahan bahasanya yang tak tertandingi, dan kabar-kabar ghaibnya yang terbukti benar, semuanya menjadi saksi bahwa Al-Qur'an benar-benar firman Allah. Maka, janganlah kita menjadi seperti kaum Tsamud yang menolak kebenaran karena kesombongan, sehingga mereka merugi di dunia dan akhirat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membukakan hati kita untuk menerima kebenaran dengan rendah hati, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Aamiin.
📜 Ayat 152-156 — Asy-Syu'ara
Terjemah — Asy-Syu'ara 154
Surat Asy-Syu'ara Ayat 154 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah…Surat Ayat 154/227 — Asy-Syu'ara الشعراء (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Asy-Syu'ara Dengarkan, Asy-Syu'ara Terjemah, Asy-Syu'ara mp3, Asy-Syu'ara pdf. Ayat 152–156. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








