Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata Penting:
- Yasīrū: Berjalan atau mengadakan perjalanan.
- Qulūb: Hati-hati (jamak dari qalb), yang dimaksud di sini adalah akal dan daya nalar.
- Ya'qilūn: Mereka memahami dan merenungkan.
- Ādzān: Telinga-telinga (jamak dari udzun).
- Ta'mā: Menjadi buta atau tidak dapat melihat.
- Abshār: Penglihatan-penglihatan (jamak dari bashar), yaitu mata lahiriah.
- Qulūb allatī fī shudūr: Hati yang berada di dalam dada, yaitu hati sanubari yang menjadi pusat pemahaman dan kesadaran.
Tafsir Ayat:
Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, marilah kita renungkan bersama firman Allah yang sangat dalam maknanya ini. Allah mengajak kita untuk merenung dan bertanya: "Tidakkah mereka berjalan di muka bumi?" Pertanyaan ini ditujukan kepada orang-orang yang mendustakan kebenaran, khususnya kaum musyrik Quraisy yang menolak dakwah Rasulullah ﷺ. Padahal, mereka adalah kaum yang gemar bepergian, baik untuk perdagangan ke Syam maupun ke Yaman. Namun, mengapa mereka tidak menjadikan perjalanan itu sebagai sarana untuk mengambil pelajaran?
Allah mengingatkan bahwa seharusnya perjalanan mereka di muka bumi itu menjadikan mereka memiliki hati yang digunakan untuk memahami dan telinga yang digunakan untuk mendengar. Maksudnya, mereka seharusnya menyaksikan sisa-sisa peninggalan umat-umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena kedurhakaan mereka, seperti kaum 'Ad, Tsamud, dan lainnya. Mereka seharusnya mendengar kisah-kisah kehancuran tersebut dengan telinga yang penuh kesadaran, bukan sekadar mendengar tanpa merenungkan. Dengan begitu, mereka akan mengambil pelajaran dan menjauhi kesesatan.
Namun, kemudian Allah menegaskan sebuah hakikat yang sangat penting: "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." Inilah inti dari ayat ini. Bukanlah kebutaan fisik yang menjadi penghalang seseorang untuk mendapat petunjuk, melainkan kebutaan hati. Banyak orang yang matanya sehat dan tajam, tetapi hatinya buta, sehingga ia tidak mampu melihat kebenaran yang terhampar jelas di hadapannya. Sebaliknya, ada pula orang yang matanya tidak dapat melihat secara fisik, namun hatinya dipenuhi cahaya iman, sehingga ia mampu menembus hakikat segala sesuatu.
Saudaraku, ayat ini mengajarkan kita bahwa kunci hidayah bukanlah pada penglihatan mata, melainkan pada kepekaan hati. Hati yang hidup adalah hati yang mau merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, mau mendengarkan nasihat dengan telinga yang tunduk, dan mau mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu. Maka, marilah kita jadikan hati kita sebagai hati yang hidup, yang selalu haus akan kebenaran, yang selalu terbuka untuk menerima petunjuk, dan yang selalu waspada terhadap godaan hawa nafsu. Jangan sampai kita termasuk golongan yang disebut Allah sebagai orang-orang yang memiliki mata tetapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar, dan memiliki hati tetapi tidak memahami. Semoga Allah membukakan pintu hati kita untuk senantiasa meraih hidayah-Nya. Aamiin.
📜 Ayat 44-48 — Al-Hajj
Terjemah — Al-Hajj 46
Surat Al-Hajj Ayat 46 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka…Surat Ayat 46/78 — Al-Hajj الحج (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Hajj Dengarkan, Al-Hajj Terjemah, Al-Hajj mp3, Al-Hajj pdf. Ayat 44–48. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








