Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- Al-Masih (المسيح): Sebutan bagi Nabi Isa 'alaihissalam, yang berarti orang yang diusap dengan keberkahan atau yang berjalan di muka bumi.
- Khalat (خلت): Telah berlalu atau telah wafat.
- Shiddiqah (صديقة): Wanita yang sangat jujur dan membenarkan dengan sepenuh keyakinan, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
- Tu'fakun (يؤفكون): Dipalingkan dari kebenaran.
Tafsir Ayat:
Saudaraku yang dirahmati Allah, marilah kita renungkan bersama firman Allah yang agung ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan bahwa Nabi Isa putra Maryam 'alaihissalam hanyalah seorang rasul, tidak lebih dan tidak kurang. Beliau adalah salah satu dari rangkaian para rasul yang telah berlalu sebelumnya. Sebagaimana para nabi dan rasul terdahulu yang diutus lalu wafat, demikian pula Isa 'alaihissalam — beliau adalah manusia pilihan yang diutus untuk Bani Israil, bukan tuhan yang kekal.
Adapun ibunya, Maryam 'alaihissalam, adalah seorang wanita yang sangat jujur dan benar — shiddiqah — yang membenarkan wahyu Allah dengan sepenuh hati dan mengamalkannya dengan penuh ketakwaan. Beliau adalah wanita mulia yang dipilih Allah, namun tetap seorang manusia biasa.
Kemudian Allah menyebutkan bukti yang sangat jelas dan sederhana: "Keduanya memakan makanan." Ini adalah bukti kemanusiaan mereka. Siapapun yang membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, maka ia adalah makhluk yang butuh, lemah, dan tidak mungkin menjadi tuhan. Tuhan tidak membutuhkan apa pun, sedangkan Isa dan Maryam membutuhkan makanan seperti manusia lainnya. Maka bagaimana mungkin mereka disembah sebagai tuhan?!
Allah kemudian berfirman: *"Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran Kami)!"* Yakni, betapa banyaknya bukti dan dalil yang Allah paparkan untuk menunjukkan keesaan-Nya dan batilnya keyakinan mereka. Namun lihatlah — betapa disayangkan — mereka tetap berpaling dan dipalingkan dari kebenaran yang begitu jelas.
Renungan dan Hikmah:
Saudaraku, ayat ini mengajarkan kita tentang kemurnian akidah Islam. Kita mencintai Nabi Isa dan ibunya Maryam sebagai hamba-hamba Allah yang mulia, namun kita tidak pernah mengangkat mereka ke derajat ketuhanan. Cinta kepada para nabi tidak boleh melampaui batas hingga menjadikan mereka sesembahan. Inilah kesempurnaan Islam — ia mengajarkan keseimbangan antara cinta dan kepatuhan kepada Allah semata.
Betapa indahnya ajaran ini! Ia membebaskan akal kita dari keyakinan yang keliru, dan mengajak kita merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam semesta. Setiap makanan yang kita santap, setiap napas yang kita hirup, semuanya adalah bukti bahwa kita adalah makhluk yang butuh kepada Allah. Maka sudah sepantasnya kita hanya menyembah Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Memberi Rezeki.
Marilah kita jadikan ayat ini sebagai penguat iman kita, bahwa Allah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa seluruh makhluk — setinggi apa pun derajatnya — tetaplah hamba Allah yang tunduk kepada-Nya. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas kebenaran hingga akhir hayat. Aamiin.
📜 Ayat 73-77 — Al-Maidah
Terjemah — Al-Maidah 75
Surat Al-Maidah Ayat 75 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya…Surat Ayat 75/120 — Al-Maidah المائدة (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-Maidah Dengarkan, Al-Maidah Terjemah, Al-Maidah mp3, Al-Maidah pdf. Ayat 73–77. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








