Terjemah — Tafsir
Makna Kata:
- Ālihatinā: sesembahan-sesembahan kami, yaitu berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah.
- Li syā'irin majnūn: karena (ucapan) seorang penyair yang gila. Mereka menyebut Nabi Muhammad ﷺ dengan sebutan ini sebagai bentuk pelecehan dan penolakan terhadap dakwah beliau.
Tafsir Ayat:
Dalam ayat ini, Allah ﷻ mengabarkan tentang sikap kaum musyrik Quraisy yang menolak kebenaran dengan alasan yang sangat dangkal. Mereka berkata dengan nada menghina dan heran: "Apakah kami benar-benar akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kami yang telah kami warisi dari nenek moyang kami, hanya karena perkataan seorang penyair yang gila?" — yang mereka maksud adalah Rasulullah ﷺ.
Mereka menganggap bahwa ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ hanyalah omongan kosong yang lahir dari syair dan kegilaan. Padahal, mereka sendiri tahu betul bahwa beliau adalah orang yang paling jujur dan amanah di kalangan mereka, bahkan sebelum diangkat menjadi rasul. Namun karena kesombongan dan keengganan mereka untuk meninggalkan tradisi nenek moyang, mereka mencari-cari alasan untuk menolak kebenaran.
Ayat ini menunjukkan betapa lemahnya argumentasi orang-orang kafir dalam menolak dakwah. Mereka tidak mampu membantah isi Al-Qur'an yang penuh hikmah, maka mereka menyerang pribadi pembawanya dengan tuduhan-tuduhan palsu. Ini adalah sunnatullah yang berlaku sepanjang zaman — para penyeru kebenaran selalu mendapat cobaan berupa hinaan dan tuduhan dari orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran.
Namun bagi kita, ayat ini menjadi pelajaran berharga: jangan pernah menolak kebenaran hanya karena datangnya dari orang yang tidak kita sukai atau karena kita merasa nyaman dengan kebiasaan lama. Kebenaran tetaplah kebenaran, dari siapa pun datangnya. Dan Allah ﷻ senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam menyampaikan risalah-Nya, sebagaimana Dia menjaga Nabi-Nya dari segala tuduhan keji kaumnya.
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa gelar "penyair gila" yang mereka tuduhkan kepada Nabi ﷺ justru menjadi bukti kebenaran beliau. Sebab Al-Qur'an yang beliau bawa bukanlah syair, dan akhlak serta kejujuran beliau bukanlah kegilaan. Allah ﷻ berfirman dalam ayat lain: "Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas." (Yasin: 69). Maka betapa bodohnya mereka yang menolak petunjuk dengan alasan yang tidak berdasar sama sekali.
Marilah kita jadikan kisah ini sebagai penguat iman, bahwa jalan dakwah ini memang penuh ujian, tetapi Allah ﷻ bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kita termasuk golongan yang menolak kebenaran karena fanatisme buta terhadap tradisi atau karena takut ditinggalkan oleh lingkungan. Sesungguhnya kemuliaan sejati hanyalah dengan mengikuti petunjuk Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.
📜 Ayat 34-38 — As-Saffat
Terjemah — As-Saffat 36
Surat As-Saffat Ayat 36 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami…Surat Ayat 36/182 — As-Saffat الصافات (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: As-Saffat Dengarkan, As-Saffat Terjemah, As-Saffat mp3, As-Saffat pdf. Ayat 34–38. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








