Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- Ātāhumā: Memberikan kepada keduanya (Adam dan Hawa).
- Ṣāliḥan: Anak yang baik, sempurna, dan sehat.
- Ja‘alā lahū syurakā’: Menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah.
- Fīmā ātāhumā: Pada apa yang Allah berikan kepada keduanya (yaitu anak tersebut).
- Fat‘ālā Allāhu: Maha Tinggi Allah, Maha Suci dari segala kekurangan.
- ‘Ammā yusyrikūn: Dari apa yang mereka persekutukan.
Tafsir Ayat:
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Adam dan Hawa serta menganugerahkan kepada keduanya seorang anak yang baik, sehat, dan sempurna — sebagai wujud nyata dari rahmat dan kekuasaan Allah yang tiada tandingannya — sebagian dari keturunan mereka justru menjadikan sekutu bagi Allah dalam nikmat yang telah diberikan itu. Mereka menamai anak tersebut dengan nama-nama yang mengandung pengabdian kepada selain Allah, seperti "Abdul Harits" (hamba Al-Harits), padahal anak itu murni ciptaan Allah semata.
Perbuatan ini merupakan bentuk kesyirikan dalam penamaan dan penyandaran nikmat, meskipun bukan berarti mereka meyakini bahwa selain Allah ikut menciptakan atau memberi rezeki. Namun, perbuatan ini tetap tercela karena menisbatkan sebagian nikmat kepada selain Allah dan menamai makhluk dengan nama penghambaan kepada selain-Nya.
Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini juga berbicara tentang manusia secara umum — bahwa banyak di antara mereka yang ketika diberi nikmat oleh Allah, justru mempersekutukan-Nya dengan beribadah kepada berhala, patung, atau makhluk lain. Padahal Allah-lah satu-satunya Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur segala urusan.
Maha Suci Allah dari segala apa yang mereka persekutukan. Maha Tinggi Allah dari segala kebatilan dan kesyirikan. Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyyah (ketuhanan) maupun uluhiyyah (ibadah).
Renungan dan Nasihat:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat dalam tentang hakikat syukur. Betapa banyak di antara kita yang ketika diberi nikmat oleh Allah — baik berupa anak, harta, kesehatan, atau kesuksesan — lupa bahwa semua itu murni dari Allah semata. Bahkan sebagian orang justru menyandarkan nikmat itu kepada sebab-sebab duniawi semata, seperti jasa dokter, keberuntungan, atau usaha pribadi, tanpa mengingat bahwa Allah-lah yang menggerakkan semua sebab itu.
Marilah kita senantiasa menjaga hati dan lisan kita agar selalu mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Ketika kita dikaruniai anak, ucapkanlah "Alhamdulillah" dan tanamkan dalam hati bahwa anak itu adalah amanah dari Allah. Jangan pernah menamai anak dengan nama-nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah, dan jangan pernah menyandarkan keberhasilan kepada selain Allah.
Ayat ini juga mengingatkan kita untuk menjauhi segala bentuk kesyirikan, baik yang besar maupun yang kecil. Kesyirikan adalah dosa yang paling besar dan tidak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya mati dalam keadaan belum bertaubat. Maka, jagalah tauhid kita, perbaiki ibadah kita, dan murnikan segala amal hanya karena Allah semata.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bersyukur, yang mengakui keesaan-Nya dalam segala keadaan, dan yang senantiasa menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan. Aamiin.
📜 Ayat 188-192 — Al-A'raf
Terjemah — Al-A'raf 190
Surat Al-A'raf Ayat 190 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka…Surat Ayat 190/206 — Al-A'raf الأعراف (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Al-A'raf Dengarkan, Al-A'raf Terjemah, Al-A'raf mp3, Al-A'raf pdf. Ayat 188–192. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








